Tampilkan postingan dengan label Transkrip Kajian Ust Firanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transkrip Kajian Ust Firanda. Tampilkan semua postingan

Kiat Kiat Hati Bersih | Ust Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Artikel ini merupakan rangkuman dari kajian Ustadz Firanda Andirja pada tanggal 14 November 2021 yang bertemakan "Kiat Kiat Hati Bersih"

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah,Tuhan ‘Arsy yang agung agar memeliharamu di dunia dan akhirat, menjadikanmu diberkahi di manapun berada, menjadikanmu bersyukur saat diberi nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah, dan meminta ampun jika berbuat dosa. Tiga hal terakhir yang telah disebutkan di atas adalah kunci kebahagiaan.

Tentu cita cita kita semua, untuk mendapatkan hati yang bersih, bahkan Nabi pun menginginkan hal ini, sebagaimana firman Allah ta’ala yang menjelaskan nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdo’a didalam surah Asy-Syu’ara ayat 87-89:

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Kita tahu bahwa orang yang mempunyai hati yang “selamat” , maka dia akan berbahagia, sebagaimana semua orang di dunia ini mereka mencari kebahagiaan, dan semua orang di dunia ini sepakat bahwa letak kebahagiaan letaknya di hati, oleh karnanya bersihnya hati seseorang merupakan salah satu kebahagiaan yang Allah sebutkan didalam surga kelak, Allah ta’ala berfirman :

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS Al-Hijr : 47)

Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan tentang penghuni surga kelak, yaitu hati hati mereka dibersihkan oleh Allah ﷻ dari penyakit dan mereka dijadikan oleh Allah ﷻ saudara, dan mereka saling berhadapan dengan penuh semangat diantara mereka karena mereka tidak mempunyai penyakit hati sama sekali.

Dalam hadist juga Rasulullah ﷺ menyebutkan :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّذِينَ عَلَى آثَارِهِمْ كَأَحْسَنِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً قُلُوبُهُمْ عَلَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ لَا تَبَاغُضَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَحَاسُدَ لِكُلِّ امْرِئٍ زَوْجَتَانِ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِنَّ مِنْ وَرَاءِ الْعَظْمِ وَاللَّحْمِ

dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Rombongan pertama yang memasuki Surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rambongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya di langit. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah membenci dan saling hasad (iri) di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari bidadari yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik tulang dan daging".

Dalam hadist ini Rasulullah ﷺ menyebutkan ni’mat hati yang bersih yaitu bersih dari penyakit penyakit hati tidak ada hasad, dengki, dendam, dongkol dan yang lain nya, yang dimana jika seseorang memiliki hati yang seperti ini, maka dia juga akan bahagia.

“Semakin bersih hatinya maka dia semakin bahagia, dan semakin kotor hatinya maka dia semakin sengsara”

Dari sini kita tahu bahwa membersihkan hati adalah pembahasan yang sangat penting bagi kita semua, apakah itu kita remaja, tua, ataupun sudah menjalani rumah tangga, hal ini perlu bagi kita dalam ber-muamalah dengan sesama muslim, kita perlu menjaga hati kita agar hati kita bersih.

“Jika Hati Kotor Mendatangkan Kesedihan, Maka Hati Bersih Mendatangkan Kebahagiaan”

Orang yang hatinya kotor dia akan semakin sengsara, yang dimana hatinya penuh dengan hasad, dengki, dongkol, dendam, maka dia adalah orang yang paling menderita, meskipun dia memiliki harta yang banyak, mobil berlimpah dan rumah yang mewah, hal tersebut tidak akan membahagiakan dirinya jikalau hatinya “kotor”, semakin banyak penyakit hatinya, dia akan semakin sengsara dan menderita.

Banyak dari orang, kita lihat bahwa dari strata ekonominya dia kaya dan berkecukupan, ternyata mereka tidak bahagia dan bahkan diantara mereka ada yang bunuh diri ditengah ketenaran dan polularitas yang dia geluti, bahkan orang orang mengira bahwa mereka bahagia, dan orang orang ingin mengikuti gaya hidupnya sedangkan mereka sendiri tidak bahagia, tentunya semua ini karna hatinya yang kotor.

Demikian juga, jikalau hati ini kotor yaitu berkegantungan kepada selain Allah ﷻ maka dia akan sengsara, 

“semakin dia tidak ikhlash kepada Allah ﷻ maka dia semakin tidak bahagia demikian juga sebaliknya jika dia semakin ikhlash kepada Allah ﷻ maka dia semakin bahagia”

Maka, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah : 

“Bahwasanya asal daripada kebahagiaan itu dari ikhlash kepada Allah ﷻ dan membantu orang lain”

Al Imam ibn Qoyyim Rahimahullah juga mengatakan :

من أحب شيئا غير الله عذب به

Siapapun yang mencintai sesuatu yang lain. daripada Allah tersiksa olehnya.

Maka seseorang hendaknya berusaha mencintai karna Allah, karna jika seseorang mencintai sesuatu bukan karna Allah ﷻ dia akan tersiksa, karena didalam hatinya ada kecintaan kepada selain Allah ﷻ mungkin kecintaan yang berlebihan kepada istrinya, mobilnya dan rumahnya, jadi seseorang hendaknya berusaha untuk membersihkan hati ini dari ketergantungkan kepada selain Allah ﷻ.

Dan inilah merupakan kiat kiat supaya hati kita bisa menjadi bersih, dan orang yang hatinya bersih merupakan mu’min yang terbaik, makadari itu Nabi ﷺ pernah ditanya tentang siapakah mu’min yang terbaik, maka beliau menjawab ﷺ yaitu yang hatinya dibersihkan dan lisan nya jujur.

أفضل الناس كل مخموم القلب صدوق اللسان

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.”

قالوا : صدوق اللسان نعرفه فما مخموم القلب ؟ 

Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?”

قال : التقي النقي ، لا إثم فيه و لا بغي و لا غل و لا حسد

Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dzholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.”

Jadi hendaknya seseorang berusaha untuk menjadi mu’min yang terbaik, apa lagi Allah ﷻ tidak melihat rupa melainkan Allah ﷻ mengutamakan hati dan amalan seseorang sebagaimana hadist Nabi ﷺ berikut :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Nabi ﷺ telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Jadi disini yang menjadi pusat perhatian Allah ﷻ adalah “Hati dan Amal”, bukan seberapa gagah, tampan, kuat, hebatnya seseorang, tapi hati dan amal lah lebih penting, makadari itu saya mengajak diri saya pribadi dan teman teman sekalian untuk memberikan perhatian yang besar kepada hati, karena sebagian besar kita terlalu menaruh perhatian yang cukup besar kepada fisik dan penampilan, hendaknya seorang mu’min memperhatikan gerak gerik hatinya, dan jangan membiarkan hatinya berkelana begitusaja, dia harus cek kondisi hatinya, apakah iman nya lagi turun ataukah lagi naik, apakah dia sedang hasad atau riya dan lain lain.

Jangan terberdaya perhatian dengan penampilan fisik sehingga lupa dengan apa yang ada didalam hati, dan sesungguhnya perhatian terhadap hati harus lebih ekstra daripada perhatian kita kepada rupa atau fisik, baiklah ini merupakan beberapa kiat kiat yang membantu kita untuk membersihkan hati.

 

1. Menjaga Lisan

Dalam hadist kata Rasulullah ﷺ :

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

“Tidaklah istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidaklah istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya.”

Disini jelas bahwa tidak akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak mungkin hatinya istiqomah sampai lisannya istiqomah, kenapa bisa demikian ?, karena kita tahu bahwa hati ini seperti wadah, sebagaimana perkataan sebagian para sahabat :

القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم

Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu.

Dan diantara corong corong tersebut ialah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar, jadi apa yang sering kita bicara dan dengarkan, itulah yang akan ter-peroyeksi kedalam hati kita, maka hendaknya seseorang tidak sembarang berbicara, jika dia berbicara tentang dunia melulu maka itulah yang akan masuk kedalam hatinya maka seseorang hendaknya menjaga lisannya. 

Kalau sahabat Abu Bakar Rodhiallahu’anhu saja pernah memegang lisan nya seraya berkata :

هَذَا أَوْرَدَنِيْ المَوَارِدَ

“Inilah yang mengantarkanku pada kebinasaan.”

Dan kita tahu bahwa orang tersebut adalah sahabat Abu Bakah Ash Shidiq yang mempunyai banyak keutamaan, terus bagaimana lagi dengan kita ?, seseorang hendaknya bisa mengamalkan amalan dari Nabi ﷺ :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

Maka seseorang hendaklah mengamalkan hadsit ini, terlebih lagi pada zaman fitnah media sosial sekarang yang dimana kita melihat banyak orang yang suka berkomentar, suka berpendapat dan mengeluarkan pendapat yang ada didalam pikirannya, hendaknya seorang mu’min merenungi apa yang hendak ia bicarakan, karena setiap pembicaraan nya tercatat dan ada tanggung jawabnya di akhirat kelak.

Dan hal ini juga mempengaruhi apa yang ada di dalam hatinya, seseorang tidak akan bersih hatinya sampai dia membereskan lisan nya terlerbih dahulu, jadi hal ini adalah ibarat corong yang akan mengisi hati kita, makanya diantara do’a dzikir pagi dan petang Nabi ﷺ berdo’a :

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.

Didalam do’a ini Nabi ﷺ meminta perlindungan dari pengelihatan dan pendengaran, 2 hal ini juga merupakan corong yang sangat kuat memproyeksikan apa yang terdapat didalam hati kita, hati hati tatkala kita menggunakan media sosial, jika seseorang tidak bisa menjaga pandangan dan lisannya maka hendaknya dia tidak usah bermedia sosial jika sebaliknya (mampu) maka silahkan, karena hati ini sangatlah lemah, dan banyak dari kita tidak bisa menguasai hati kita masing masing, dan banyak contohnya, seperti kita sholat ingin khusyuk tapi susah, kita tidak ingin menangis tetapi kita menangis, dan lain lain, contoh tersebut memproyeksikan bahwa hati kita ini sulit untuk dikuasai

Apa yang kita lihat dan dengar hal ini sangat mudah masuk kedalam hati dan juga bisa mengotori hati kita, seharusnya hati kita diisi dengan Al-Qur’an, Hadist Hadist Nabi ﷺ ,Perkataan Para Ulama, Kata Kata Yang Indah, namun jika hati kita diisi dengan hal hal yang buruk maka ini akan merusak hati kita, jika ingin memiliki hati yang bersih, maka jagalah LISAN, PENDENGARAN, PENGELIHATAN, dan PEMBICARAAN maka hendaknya kita waspada terhadap hal tersebut.

 

2. Perbanyak Istigfar

Kenapa ?, karena setiap perbuatan dosa kita pasti ada efeknya, dan yang pertama ialah menimpa efek hati, yang dari awalnya hati kita bersih setelah itu langsung terkontaminasi dengan maksiat yang kita lakukan, dan Nabi ﷺ mengatakan :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4).

Maka kita hendaknya memperbanyak istigfar, kapan hati kita merasa bermasalah maka ucapkan istigfar, Nabi ﷺ pun jika menemukan hati berliau dengan keadaan yang bermasalah beliaupun beristigfar sebagaimana hadist :

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.”

Ini dalil bahwasanya istigfar bisa menyembuhkan penyakit dihati kita, jika kita malas, sedih, riya, ujub ataupun marah dan yang lainnya, maka ucapkanlah istigfar, karena dengan hal tersebut kita bisa meredam penyakit hati atau kegelisahan yang ada pada hati kita, maka seseorang hendaknya memperhatikan gerak gerik hatinya, karena secuil riya yang terdapat didalam hati kita maka Allah ﷻ tau, sebagimana firman Allah ﷻ :

اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (QS AL-Mulk : 13)

dan kita tidak bisa menyembunyikan riya tersebut dari Allah ﷻ , dan kita pun merasa hati kita ada keganjalan penyakit tersebu, maka diri kita hendaknya tidak malu dan canggung untuk mengucapkan istigfar.

Diantara contoh lafal istigfar adalah :

1. أستغفر الله ( “Aku memohon ampun kepada Allah.” )

2. استغفر الله العظيم ( “Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung” )

3. استغفر الله واتوب اليه ( “Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepadanya”)

4. استغفر الله العظيم الذي لا اله الا هو الحي القيوم واتوب اليه ( “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya” )

5. Dan lafal lafal istigfar yang lain nya

Istigfarlah tatkala kita menemukan waktu senggang seperti mengantri lampu merah, atau mengantri mau mengisi bahan bakar mobil, mari kita isi waktu waktu luang kita dengan memperbanyak istigfar kepada Allah ta’ala, jangan biarkan waktu kita lewat begitu saja dengan hanya kita mengantri, mari manfaatkan waktu tersebut dengan berdzikir istigfar kepada Allah yang dengan tersebut Allah ﷻ menyembuhkan penyakit penyakit yang ada didalam hati kita.

Jika hati sudah kotor, dia tidak akan mengenal lagi kebaikan, jika dia melakukan maksiat, dia akan merasa dia baik baik saja, kalau dia meninggalkan ketaatan dia juga biasa biasa saja, makadari itu Al Imam Ibnu Qoyyim mengatakan :

والله لو ان القلوب سليمة لتقطعت اسفا من الحرمان

Demi Allah, Seandainya hati itu bersih, maka dia akan merasa tercabik cabik jika terhalangi dari perbuatan kebaikan

Olehkarenanya, selamatkan hati kita karena banyaknya sekarang hal hal yang dapat mengotori hati kita, seperti banyaknya informasi yang beredar di media sosial dan disana siapapun bisa berbicara, dan siapapun bebas beropini, dan setiap kita mempunyai gadged, pastinya susah untuk terhindar dari hal ini, maka dari itu potensi terkotorinya hati semakin tinggi.

 

3. Jangan terlalu banyak tau urusan orang, yang tidak penting bagi kita

Hal ini sebagaimana hadist Nabi ﷺ :

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : “مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Rasulullah ﷺ  bersabda, ‘Diantara keelokan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya’.”

Sifat rasa ingin tahu yang berlebihan tentang urusan orang lain, yang biasa kita namakan “Kepo” ini dapat merusak hati seseorang, apalagi menyangkut dengan keburukan orang lain, dan sebaiknya kita berusaha untuk tidak mengetahui keburukan orang lain supaya hati kita tidak terpapar keburukan dan noda noda, makanya ada hadist yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, hadist ini di hasankan oleh syaikh Ahmad Syakir dan di dho’ifkan oleh syaikh Al-Albani namun disepakati oleh para ulama maknanya benar, Rasulullah ﷺ bersabda :

لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ

Tidaklah seseorang di antara sahabat-sahabatku yang menyampaikan sesuatu kepadaku dari seseorang, [melainkan] aku sungguh senang jika aku keluar menemui kalian sementara aku dalam keadaan hati yang bersih.

Sebisa mungkin kita tidak mendengarkan keburukan orang lain, kecuali dengan keadaan keadaan tertentu misalkan seorang ustadz mendengarkan keluhan seseorang untuk meminta solusi dari permasalahan nya tersebut, makadari itu sebisanya kita menghindari mendengarkan keburukan dari orang lain karena kita menginginkan hati yang bersih tatkala bertemu teman teman kita.

Sebagian orang bangga dengan mengetahui keburukan orang lain, dan hal ini dapat kita jumpai pada kebanyakan ibu ibu yang suka sharing sana sharing sini, “Tau gak si fulanah A, itu gini”, “Tau gak ustadz fulan itu kaya gini lo” mungkin sebagian ibu ibu akan seperti ini jika mereka saling bertemu, dan hal ini sebenarnya tidak perlu dan bahkan kalau bisa kita latih sikap kita ini untuk tidak perlu tahu keburukan orang lain.

Jika kita mengetahui keburukan seseorang, maka hati kita rentan terkena kotoran, karena syaitan menghiasi berita keburukan tersebut sehingga hati kita pun rusak dan tercemari oleh penyakit hati, permasalahan nya adalah kita berselancar didunia internet, dan tentunya dengan kita terjun kesana kita tahu banyak permasalahan orang lain yang berpotensi bisa membuat hati kita kotor Allahulmusta’an.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah pernah berkata : 

“Sebaik baik amal perbuatan adalah bersinya hati dari berbagai macam dari segala bentuk kebencian”

Jadi tatkala kita tidak mau mendengar kejelekan dari orang lain, distu kita sedang beribadah kepada Allah ﷻ dan kita dapat pahala atas perbuatan tersebut, jadi dengan tidak mendengar keburukan orang lain, itu merupakan amal sholeh bahkan kata Al Imam Rajab Al Hambali rahimahullah tadi adalah amalan terbaik, dan dengan seperti ini hati kita akan terasa lebih terjaga dari kotornya hati.


4. Membalas Keburukan Dengan Kebaikan

Allah ﷻ berfirman : 

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (QS Fushilat : 34)

Tentunya ini adalah perkara yang mungkin sangat sulit bagi kita, tetapi dibalik itu ini merupakan diantara salah satu amalan yang terbaik yaitu membalas keburukan orang lain dengan kebaikan, jika orang berbuat jahat kepada kita maka do’akan lah dia, jika orang mencacimaki kita maka balaslah dengan tutur kata yang baik kepadanya, dan ini adalah perkara yang sangat berat, tetapi hal ini sangat membantu kita untuk mudah dalam membersihkan hati kita.

Diantara orang yang menakjubkan adalah Ibn Hajar Al Haitami rahimahullah ulama besar dari madzhab Syafi’I mempunyai buku berjudul  “Az zawajir 'an Iqtirafil Kabair” yang dibahas dalam buku ini adalah tentang peringatan terhadap dosa dosa besar, dan beliau rahimahullah menyebutkan dibuku tersebut diantara dosa dosa besar adalah kumpulan penyakit penyakit hati.

Jika seseorang merasa hatinya sedang mengalami dengki, hasad dan benci maka hal ini mengantarkan kepada (الحقد) yaitu menyimpan kebencian didalam dada, dan hal ini menjadikan seseorang sangat menderita, dan cara untuk membersihkan penyakit ini diantaranya ialah “KITA BERBUAT BAIK TERHADAP ORANG YANG KITA BENCI”. 

Karena tatkala kita membalas suatu keburukan dengan perbuatan baik maka kata Allah ﷻ “maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS Fushilat : 34), bisa jadi dia berubah yang asalnya jadi musuh kita menjadi teman kita dengan sebab balasan baik dari perbuatan buruk tersebut.

 

5. Berusaha Ikhlash dan Membantu Orang Lain

Asy-Syaikh al-'Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata, :

فعنوان سعادة العبد إخلاصه للمعبود، وسعيه في نفع الخلق

Maka tanda kebahagiaan seorang hamba terletak pada keikhlasannya kepada Dzat yang diibadahi dan usahanya untuk memberi manfaat kepada makhluk.

Jika seseorang mengumpulkan 2 perkara ini maka InsyaaAllah hati nya akan bersih.

a) Ikhlash

Seseorang akan bersih hatinya jika dia berbuat ikhlash, karena dia berbuat semata mata hanya mencari ridho Allah ﷻ dan syi’ar dia adalah perkataan orang orang yang ber’iman :

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. (QS Al-Insan : 9)

Hal ini perlu kita latih dan ini merupakan derajat orang orang yang ber’iman ikhlash luar biasa, seseorang hendaknya melakukan amal sholeh apapun, dia hendaknya bergantung hanya kepada Allah ﷻ , bukan kepada pengakuan, sanjungan melainkan amal ibadah tersebut murni hanya untuk mencari perhatian dan pengakuan dari Allah ﷻ.

“Kapan Hati Kita Ikhlash Maka Disitu Hati Kita Bersih”

Permisalan jika kita menolong orang karna Allah ﷻ, maka jika orang yang bersangkutan tidak berterima kasih, kita tidak akan sedih, tetapi berbeda hal nya dengan orang yang menolong seseorang bukan karna Allah ﷻ, pasti dia akan sedih dan mungkin timbul gejolak di hatinya “Dasar, Sudah Ditolong Tidak Berterimakasih” dan orang ini merasa jengkel.

“Jika Kita Sudah Sampai Pada Derajat Ikhlash, Maka Kita Tidak Akan Pusing Dengan Komentar Orang Lain Kepada Kita”

Diantara bentuk menjaga keikhlashan adalah dengan dia menyembunyikan amal sholehnya sebagaimana perkataan sahabat, Az Zubair bin Al ‘Awwam mengatakan “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan sholihnya, maka lakukanlah.”


b) Membantu Orang Lain

Kita ingin hidup kita bermanfaat dunia dan akhirat, dan diantara mewujudkan hal tersebut ialah dengan membantu orang lain, hendaknya seseorang merenungkan dan bertanya kepada dirinya, “Apa yang bisa saya lakukan, untuk islam dan kaum muslimin” jika mempunyai kelebihan harta, maka silahkan berinfaq dan bersedekah, maupun juga yang mempunyai kecerdasan dia bisa mengajarkan suatu hal terhadap kaum muslimin dan lain lain.

“Sejauh mana dia memikirkan kaum muslimin, maka sejauh itu pula hati nya akan bersih”

Dia tidak akan tersibukan dari yang tidak bermanfaat, bisa jadi dari sibuk dengki, hasad, nyinyir orang menjadi tersibukan dengan hal hal yang bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin, hal ini bisa kita mulai dari orang orang terdekat disekitar kita.

Hal ini kita latih sedikit demi sedikit dan tentunya sebisa mungkin kita lakukan untuk menggapai hati yang bersih dan terhindar dari buruknya noda noda kotor yang akan mengotori hati kita.

 

6. Jangan memasukkan dunia kedalam hati

Hal ini terutama untuk teman teman kita yang mempunyai kelebihan harta, mungkin Allah memberikan kita dunia berupa rumah, mobil, perhiasan, jam tangan bagus, maka hal ini hendaknya jangan masukan kedalam hati.

Sebagian ulama mengatakan bahwa permisalan dunia dan akhirat itu seperti seorang istri yang digabung dengan madunya, jika istri pertama diberikan perhatian sebentar, istri kedua ribut dan begitupun sebaliknya, hal ini susah dan tidak bisa bersatu, dan seperti itu juga dunia dan akhirat, jika kita lebih mengutamakan dunia maka akhirat kita terpinggirkan, dan sebaliknya jika kita lebih mengutamakan akhirat maka dunia kita yang terpinggirkan.

Diantara cara supaya dunia tidak masuk kedalam hati kita adalah dengan cara jangan terlalu “High Class / High Style” kita lihat Nabi ﷺ saja beliau terkadang jalan ke masjid tanpa sendal, beliau ﷺ juga bersabda :

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنْ الْإِيمَانِ

Sesungguhnya sederhana dalam berpakaian adalah bagian dari iman.

Maka dari itu hendaklah kita jangan high class melulu, naik pesawat bisnis melulu, sesekali berpakaian dengan pakaian yang biasa, sesekali naik pesawat yang biasa, sesekali makan dipinggir jalan, intinya seseorang jangan terlalu mewah dikhawatirkan dunia tersebut masuk kedalam hati kita, Rasulullah ﷺ pernah berkata :

وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْإِبِلِ

dan kebanggaan dan kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta yang menggembala.

Kenapa ? karena terbawa dengan suasana dirinya, dia berbangga diri mempunyai unta dan kuda, jadi dunia yang berada disekitar kita akan mempengaruhi kita, dan hal tersebut tidak bisa kita hindari, betapa susahnya kita menjaga hati ini dan kita tentunya berusaha untuk menjaganya.

Kita lihat Nabi ﷺ ketika sahabat beliau melihat beliau yang tidur di sebuah tikar, dan terlihat bekas dari tikar tersebut di lambung beliau ﷺ, dengan melihat kondisi tersebut sahabat menyarankan :

يا رَسولَ اللَّهِ، لوِ اتَّخذتَ فِراشًا أَوثرَ مِن هذا

“Wahai Nabi Allah! Andaikan engkau menggunakan permadani tentu lebih baik dari tikar ini”

فقالَ: ما لي ولِلدُّنيا

“Apa urusanku terhadap dunia?”

Dan hal ini tentunya berat sekali untuk kita lakukan di zaman sekarang, dan jika kita ada di posisi tersebut, yaitu ditawarin kasur ataupun itu yang lebih baik daripada tikar, maka kita pun langsung menyambutnya dengan senang hati, setelah itu Nabi ﷺ melanjutkan perkataan beliau :

ما مَثَلي ومَثَلُ الدُّنيا إلَّا كَراكبٍ سارَ في يَومٍ صائفٍ فاستَظلَّ تحتَ شَجرةٍ ساعةً من نَهارٍ ثمَّ راحَ وترَكَها

“Permisalan antara aku dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari yang panas terik, lalu ia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat di siang hari, kemudian ia istirahat di sana lalu meninggalkannya.”

أستغفر الله makadari itu, jika kita ingin hati kita bersih, maka jangan masukan dunia ini kedalam hati, bagaimana hati mau bersih jika hati kita ini dipenuhi dengan dunia dunia dan dunia.


7. Belajar Menerima takdir Allah

Hal ini tentu susah tetapi kita berusaha belajar untuk berbaik sangka kepada Allah ﷻ, dan senantiasa menerima takdir Allah ﷻ, di antara do’a Nabi ﷺ : 

وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ

Dan aku meminta kepada-Mu ya Allah, bisa rida setelah menerima qadha.

Ridho terhadap Qodho adalah sesuatu yang tidak mudah, betapa banyak orang yang berontak, teriak, dan marah tidak tahan dengan musibah yang Allah tetapkan bagi dirinya, didunia ini kita hidup untuk di uji, dan bukan berarti orang yang santai adalah orang yang tidak di uji, melainkan dia masih menunggu ujian berikutnya yang akan di timpakan kepadanya.

Dengan demikian dia tidak akan merasa jengkel terhadap Allah ﷻ, dan orang lain, bahkan tatkala dia di dholimi oleh orang pun dia tidak akan merasa jengkel, kenapa ? karena dia meyakini hal ini sudah di takdirkan oleh Allah ﷻ “Qodarullah (Semua sudah takdir)”, dengan hal ini bisa membantu kita untuk menjaga agar hati kita tetap bersih, dan semoga kita semua terutama saya pribadi dapat mengamalkan nya Aamiin.

Allahua’lam.

Semoga bermanfaat, jika ada kesalahan dalam penulisan ini, mohon kiranya di betulkan, karena mungkin saja ada kelalaian dari ana pribadi tatkala menulis rangkuman ini, kebenaran dari Allah ﷻ dan kesalahan dari kejahilan ana pribadi

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


ARTIKEL PENDUKUNG

https://carihadis.com/Shahih_Bukhari/3014

https://islamweb.net/ar/consult/index.php?page=Details&id=2176188

https://shahihfiqih.com/mutiara-hadits/%E2%80%8Bsebaik-baik-manusia/

https://almanhaj.or.id/11926-i-k-h-l-a-s-2.html

https://muslim.or.id/33387-10-kiat-istiqomah-10.html

https://muslim.or.id/2840-hati-yang-terbaik.html

https://maribaraja.com/abu-bakar-ash-shiddiq-kabaurangdulu026/

https://almanhaj.or.id/11518-dzikir-pagi-dan-petang.html

https://muslim.or.id/19817-noda-di-hati-yang-membandel.html

https://rumaysho.com/3437-perintah-memperbanyak-istighfar.html

https://rumaysho.com/12923-ini-tanda-orang-yang-tidak-cinta-pada-allah.html

https://firanda.com/1540-hati-yang-bersih.html

https://www.facebook.com/256276288517007/posts/-tanda-kebahagiaan-seorang-hamba-asy-syaikh-al-allamah-abdurrahman-bin-nashir-as/302147900596512/

https://tafsirq.com/hadits/abu-daud/3630

https://www.muslimahnews.com/2020/11/22/wajibnya-ridha-bil-qadha/

https://litequran.net/

Share:

Pekan Ke-3 Materi 5 | Tanda Terjangkit Riya - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

" APAKAH KITA BER'IBADAH DENGAN RIYA ? "

AUDIO BISA DIPUTAR DISINI : 

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله 

الصلاه والسلام على رسول الله


Apa ciri ciri orang yang riya ?

Diantaranya adalah rajin ber'ibadah tatkala orang banyak dan malas ber'ibadah tatkala sendirian, dan ini merupakan tanda seseorang terkena riya.

Diantara ciri riya yang lain adalah, "SEMANGAT KALAU DIPUJI", dan kalau dicela dia berhenti, berkurang, dan mundur sedikit demi sedikit, ini menunjukkan kita ber'amal bukan karna Allah ta'ala, tapi kita ber'amal karna "PUJIAN", dan ini tanda tanda seseorang terkena penyakit Riya.

Diantara tanda yang lain adalah, "KITA TIDAK PERNAH MEN-CEK NIAT KITA SENDIRI", seorang berusaha mengecek niat dia sebelum ber'amal, agar dia terhindar dari Riya, tapi kalau dia tidak mengecek, maka bisa jadi dia terjerumus kedalam penyakit Riya ini, bahkan sampai sampai dia tidak menyadari bahwa dia sedang Riya.

olehkarena nya dikatakan kepada Nafi' bin Jubair :


Apa kau tidak melihat janazah, ikut menguburkan nya ?

maka kata Nafi' bin Jubair rahimahullah : tetap ditempatmu, sampai aku niatkan dahulu.


Olehkarna itu hendaknya seorang muslim dia memperhatikan niat dia tatkala dia beribadah kepada Allah ta'ala, bisa jadi seseorang riya dan dia tidak menyadari nya bawa dia riya, ada amalan udang dibalik batu, kita cek, dengan menanyakan kepada diri kita sendiri, apakah sudah ikhlash apakah tidak riya, karena terkadang kita ngomong banyak sampai sampai terjerumus kedalam Riya.

lihatlah perkataan Sulaiman bin Daud : (Dalam Audio)

makanya jika seandainya seseorang sadar dirinya melakukan Riya, maka segera dia perbaiki dirinya agar penyakit riya hilang dari dirinya, dan tentunya riya bisa merusak amalan yang ada pada dirinya.

Wallahu a'lam


Pertemuan Sebelumnya : Sebab Sebab Riya

Pertemuan Selanjutnya : 

Share:

Pekan Ke-3 Materi 4 | Sebab Sebab Riya - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

"ADA BEBERAPA SEBAB YANG MENYEBABKAN SESEORANG BISA TERJERUMUS KEDALAM PENYAKIT RIYA"


AUDIO BISA DIPUTAR DISINI :

Ada beberapa hal, yang menyebabkan seseorang terjerumus kedalam "RIYA",

 بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله 

الصلاه والسلام على رسول الله

Yang Pertama, diantaranya adalah faktor "LINGKUNGAN" yang berada disekitarnya, terutama sikap bapak dan ibunya, mungkin saja bapak dan ibunya suka cerita sana cerita sini, apalagi jaman sekarang ada yang namanya "MEDIA SOSIAL" yang membuat mudahnya riya bertebaran, sehingga dia tumbuh dalam keluarga yang bemudah mudahan dalam menceritakan amal sholeh nya.

Yang Ke-dua adalah faktor "PERGAULAN", yang mungkin teman teman nya suka pamer, suka cerita sana sini, sehingga dia mudah untuk terbawa suasana tersebut.

Yang Ke-tiga adalah, bisa jadi "dia belum mengenal Allah Ta'ala", kalau dia tahu hakikat Allah Ta'ala, bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rizki, memberikan hidayah dan lain lain, maka dia tidak akan berharap pujian dan lain hal dari manusia, nah kenapa dia berharap pujian dari manusia ?, karena dia menyangka bahwa pujian dan sanjungan dari manusia itu bermanfaat untuk dirinya atau dapat menolak mudharat dari dirinya akhirnya ada timbul ketergantungan didalam dirinya untuk diakui, disanjung dan dipuji oleh manusia, ini disebabkan dia tidak mengetahui hakikat Allah Ta'ala tadi.

Yang Ke-empat adalah, karena dia "ingin tampil dan ingin diakui oleh manusia", bahwa dia telah melakukan hal hal bagus, mungkin dalam hal ibadah, politik, dan lain lain. Maka hendaknya seorang waspada, karena "RIYA" bukan dosa KECIL, melainkan ia dosa BESAR maka hendaknya seseorang menjauh dari sifat ini sejauh jauh nya.

Yang Ke-lima adalah, karena dia "TAMAK" terhadap apa yang telah dimiliki oleh orang lain, maka dengan cara dia Riya, terus dia merasa diakui, sehingga dia bisa mendapatkan hadiah, atau harta, atau kepercayaan, ataupun yang lainnya, sehingga dia butuh untuk Riya, guna mendapatkan itu semua, tentunya ini adalah sifat yang berbahaya dan juga dosa besar.

Yang Ke-enam adalah, karna "PUJIAN" terlebih lagi dia TIDAK KUAT untuk DIPUJI, tadinya dia ikhlash ber'ibadah tetapi karena orang orang kagum terhadap apa yang dia lakukan maka dia tidak tahan dengan pujian tersebut, dan dia lupa bahwa apa kebaikan yang dia lakukan itu semata mata adalah Allah yang memudahkan dia untuk berbuat hal tersebut, maka timbulah "RIYA" dalam dirinya, dan sehingga lama kelama'an dia suka dengan pujian tersebut dan menikmati pujian tersebut, akhirnya dirinya terbiasa dengan RIYA.

Terkadang seseorang bisa menjerumuskan kawan nya kepada kebinasa'an, seperti tatkala seseorang memuji orang lain, kata Nabi ﷺ :

أَهْلَكْتُمْ  أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ

“Kalian telah menghancurkan atau mematahkan punggung orang tersebut.”

Kenapa? karna pujian yang diberikan orang lain terhadap dirinya tidak bisa ia bendung, itu bisa menjadikan dia besar kepala, lupa diri, dan akhirnya dia kecanduan untuk dipuji.

Yang Ke-tujuh adalah "Syahwat Khofiyah", ibn Taimiyyah menamakan dengan nama tersebut, yaitu syahwat ingin di agungkan, ingin tampil nomer 1, sebagaimana seorang lapar dia ingin makan, sebagaimana seorang laki laki melihat perempuan dia bersyahwat, sama dengan seseorang yang ingin mencari pujian dan sanjungan, dan hal ini meurpakan penyakit, bahkan sampai sampai dia rela berinfak hanya ingin mendapatkan sanjungan.

Olehkarena itu ada hadits dari Abu Musa al-‘Asyari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : 

الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ ، وَ الرَّجُلُ يُقاَتِلُ لِيُذْكَرَ ، وَ الرَّجُلُ يُقاَتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ ، فَمَنْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ أَعْلَى ، فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ 

“Ada seseorang berperang karena rasa fanatisme, berperang dengan gagah berani dan berperang dengan riya’;

manakah dari yang demikian itu berada di jalan Allah?” 

Beliau menjawab: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, maka itulah fi sabilillah”.

[HR Bukhari no. 2810 dan Muslim no. 1904 dan selainnya].

Share:

Pekan Ke-3 Materi 3 | Bahaya Riya dan Sum'ah - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

"TERNYATA RIYA LEBIH BERBAHAYA DIBANDINGKAN FITNAH DAJJAL"

AUDIO BISA DIPUTAR DISINI :

Bahaya Riya dan Sum'ah

 بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله 
الصلاه والسلام على رسول الله 

Setelah kita memahami tentang ikhlash dan juga faidah - faidah nya, maka kita harus menjaga ke-ikhlasan ini, karena ikhlash perlu perjuangan dan menjaga ke-ikhlashan juga perlu perjuangan yang lebih, maka segala penyakit penyakit, kotoran kotoran yang bisa menghancurkan ke-ikhlasan kita, atau mengotori ke-ikhlasan kita maka kita harus hindari.

Diantara penyakit yang paling berbahaya, yang bisa merusak ka-ikhlasan kita adalah 2 penyakit besar, yaitu "Riya dan 'Ujub" dan semacam dengan Riya adalah Sum'ah, jadi Riya Sum'ah dan 'Ujub, inilah 2 penyakit yang berbahaya, dan 2 penyakit ini bukan menimpa kepada orang orang yang tidak sholeh, yang tukang maksiat, tetapi justru 2 penyakit ini menyerang orang orang yang sholeh, yang memiliki kelebihan dengan amal sholeh, yang rajin bersedekah, yang raji sholat, yang rajin berdakwah, yang rajin ikut pengajian, nah justru mereka inilah yang rawan terkena penyakit "'Ujub dan Riya", karena kalau pelaku maksiat, apa yang mau dia Riya kan ?, apa yang mau dia 'ujubkan dari maksiat nya ?.

Yang pertama yang akan kita bahas adalah mengenai Riya dan Sum'ah, Apa maksudnya Riya dan Sum'ah ?

Riya diambil dari kata رؤيه yaitu melihat kemudian dijadikan menjadi fi'il muta'addi, yaitu memerlukan objek, 2 menjadi (Ro'a, yu ro'i, riya'an), yang artinya memperlihatkan, yang tadi artinya melihat menjadi memperlihatkan, jadi riya itu memperlihatkan amal sholeh kepada orang lain, dan kata kata riya didalam Al-Qur'an banyak, seperti firman Allah Ta'ala pada QS Al-Anfal:47 :

بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ

Yaitu yang keluar, seperti orang kafir yang keluar ketika berperang, dalam kondisi sombong dan riya, demikian pula kata Allah Ta'ala dalam QS Al-Baqarah:264 :

كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ

Seperti orang yang berinfaq karna riya, disini Allah menyebutkan dengan kata "Riya", demikian juga Allah Ta'ala sebutkan dalam fi'il mudhari dalam QS An-Nisa:142 :

يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ

Allah Ta'ala menyebutkan tentang orang orang munafiq yang mereka kalau sholat, mereka يُرَاۤءُوْنَ, mereka riya, demikian juga Allah Ta'ala berfirman dalam QS Al-Ma'un:5-6 :

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَ

Celakalah mereka orang orang yang sholat yang mereka sholat sambil melakukan Riya, riya adalah memperlihatkan amalan mirip dengan Sum'ah.

Sum'ah artinya "Memperdengarkan Amalan" jadi kalau riya memperlihatkan amalan dia dengan pengelihatan, adapun sum'ah yaitu memperkenalkan / memperdengarkan amalan nya kepada orang lain, kata Nabi ﷺ :

مَنْ سَـمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَـمَّعَ اللَّهُ بِهِ سَامِعَ خَلْقِهِ

"Barangsiapa yang sum’ah (ingin didengar) amalannya oleh manusia maka Allah akan memperdengarkannya kepada makhluknya yang mendengar ... (H.R. Ahmad 6220)

Bisa juga diartikan sbb :

Barangsiapa yang mendengarkan amalannya karna ingin dipuji, maka Allah akan bongkar niat buruknya tersebut, pada hari kiamat kelak.

Contoh seseorang  dia bersedekah kemudian dia cerita, saya kemaren bersedekah disini, disana, ini namanya sum'ah, dia sholat malam terus dia ceritakan, saya sholat malam dan bangun jam sekian, dalam rangka untuk dipuji, ini disebut dengan "Sum'ah".

Dua hal ini adalah satu pembahasan / satu bab, yaitu sama sama ingin dipuji, agar orang tau amal yang dia lakukan, riya ini adalah dosa besar dan sangat berbahaya karna Rasulullah ﷺ menamakan nya dengan syirik, terkadang Rasulullah ﷺ menamakan nya dengan, الشرك الخفي (Syikrik yang samar), terkadang Rasulullah ﷺ menamakan nya dengan,  شرك السرائر (Syirik yang tersembunyi).


Riya ini lebih berbahaya daripada fitnah Dajjal, kenapa bisa demikian ?,

Suatu hari para sahabat sedang bberkumpul dan sedang berbicara tentang dajjal dan fitnahnya yang sangat berbahaya di akhir zaman, yang bisa menurunkan hujan dari langit, bisa menumbuhkan tanaman yang sedang tandus, dan luar biasa kesaktian dajjal, maka Nabi ﷺ mengatakan :

ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال 

”Saya akan memberikan kabar kepada kalian tentang hal yang menakutkan daripada fitnah al-Masih Dajjal. 

فقلنا بلى يا رسول الله

Kemudian kami menjawab:”iya wahai Rasulullah.”

فقال الشرك الخفي أن يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل. رواه ابن ماجه والبيهقي

Lalu Rasulullah menjelaskan:” Syirik yang samar (riya’ atau pamer) yaitu ketika seseorang shalat kemudian memperindah shalatnya karena sedang dilihat oleh orang lain.
(HR. Imam Turmudzi dan Imam Baihaqi).

Ini contoh syirik khofi, yaitu syirik yang tidak terlihat, seorang yang memandang orang ini menyangka dia ikhlash, tetapi Allah maha tahu, karena riya tersebut tersembunyi, tidak nampak, tetapi bahwasanya Allah tahu dia sedang riya, ini adalah syirik yang berbahaya dan bahayanya melebihi bahaya fitnah dajjal, kenapa lebih berbahaya dari fitnah dajjal ?

Kata para ulama fitnah dajjal hanya muncul di akhir zaman adapun riya muncul setiap saat, bisa menimpa siapa saja dan kapan saja, dan kita belum tentu mendapati fitnah dajjal di akhir zaman, mungkin kita meninggal sebelum dajjal muncul, tetapi kalau riya kita bisa menghadapi nya setiap saat.

Yang kedua, kalau fitnah Dajjal InsyaaAllaah orang be'iman maka bisa terhindar dari fitnah dajjal, tetapi kalau riya justru terkadang menyerang atau seringnya menyerang orang orang yang beriman, dan bahkan bisa jadi seseorang bisa tidak sadar bahwa dirinya berbuat riya, dia menyangka bahwasanya amal dia banyak, ternyata tidak ada nilai nya sama sekali, ini karena saking halusnya riya tersebut.

Perhatikan bagaimana buruk perumpama'an riya yang Allah Ta'ala sebutkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 264 :

كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا

seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan.

Ini merupakan perumpama'an yang luar biasa, Ibn Kastir menjelaskan, bahwasanya orang yang melakukan riya, pada hakikatnya adalah amalan dia tidak diterima, seperti batu yang tidak bisa menumbuhkan tanaman, kalau menumbuhkan tanaman membutuhkan tanah, tetapi orang kalau lihat dari luar, dia lihat batu tersebut ada tanah diatasnya, orang orang tidak menyangka bahwa ini adalah tanah yang subur mudah ditanami dengan tanaman, ternyata tidak, tanah itu hanya berada diatas batu yang halus, buktinya jika terkena hujan, maka hilanglah semua, pasir dan tanah tersebut, yang tersisa hanyalah batu yang tidak bisa menumbuhkan tanaman.

Maka demikianlah orang orang yang riya, dia menyangka bahwasanya amalan dia subur mudah menumbuhkan pahala, orangpun lihat seperti itu, ternyata KOSONG, tidak ada isinya sama sekali, dia terpedaya dan orang orangpun terpedaya, makanya bahanya nya riya.

Syirik yang samar, bisa jadi pelakunya tidak sadar demikian juga orang disekitarnya juga tidak sadar, menyangka dia orang sholeh, menyangka amalan nya banyak, menyangka pahalanya banyak, ternyata "seperti batu yang tidak bisa menumbuhkan tanaman".

Wallahu a'lam semoga bermanfaat 


Pertemuan Sebelumnya : Ikhlash Akan Membersihkan Dan Membentengi Hati

Pertemuan Selanjutnya : Sebab Sebab Riya

Share:

Pekan Ke-3 Materi 2 | Ikhlash Akan Membersihkan Dan Membentengi Hati - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

FAIDAH KE-IKHLASAN

"BERSIH DAN KOKOH HATINYA DENGAN KE-IKHLASAN DIDALAM HATINYA"


AUDIO BISA DIPUTAR DISINI :

Diantara faidah ke-ikhlasan, Ikhlash akan "Membersihkan Hati Kita Atau Membentengi Hati Kita Dari Penyakit Penyakitnya", oleh karenanya didalam suatu hadist kata Nabi ﷺ : 

 ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ 

Tiga perkara yang mana hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya

إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ

Mengikhlaskan amalan karena Allah

Ibnu Qoyyim rahimahullah, ketika mengomentari hadist ini dia mengatakan, :

 أي: لايحمل الغل

Yaitu hatinya tidak akan membawa kebencian, kedendaman, hasad dan yang lainya, dan ini dengan ikhlash maka seorang dia berfikir buat apa dia dendam ?, dia ikhlash kan semua nya karna allah Ta'ala, dan buat apa dia hasad kepada orang lain ? sementara hatinya ikhlash kepada Allah Ta'ala, makanya orang yang ikhlash itu, bener benar hatinya itu bersih dari berbagai macam penyakit.

Jika seorang ternyata mudah hasad, berarti ikhlash dia bermasalah, jika seseorang ternyata mudah dendam, baru diomongin orang sedikit kemudian dia marah dan dendam, dia pikirkan sebelum tidur maka ini artinya hati dan ke-ikhlashan nya bermasalah, dan jika timbul dalam hatinya ingin keburukan terhadap orang lain, berarti hatinya kurang ikhlash.

Orang yang ikhlash dia tidak pedulikan hal tersebut, yang dia pikirkan adalah bagaimana Allah menilainya sehingga perhatian dia kepada Allah Ta'ala, dan dia menjalankan segala keta'atan dan ibadah, hanya semata mata karna Allah Ta'ala. 

"kalau dia melakukan segala perkara karna Allah, maka penyakit penyakit ini tidak mudah masuk kedalam hatinya, karena ikhlash telah membentengi hatinya." 

Wallahu a'lam semoga bermanfaat


Pertemuan Sebelumnya : Meraih Kebahagia'an Dengan Ke-ikhlasan

Pertemuan Selanjutnya : Bahaya Riya dan Sum'ah

Share:

Pekan Ke-3 Materi 1 | Meraih Kebahagiaan dengan Keihlasan - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

FAIDAH KE-IKHLASAN

"DIA BERBAHAGIA DENGAN KE-IKHLASAN DIDALAM HATINYA"


AUDIO BISA DIPUTAR DISINI :

Diantara faidah ke ikhlasan adalah "Meraih Kebahagiaan", hal ini sebagaimana di'ingatkan oleh Asy-Syaikh al-'Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata :

وكثيرا ما يجمع تعالى بين الصلاة والزكاة في القرآن

Seringkali Allah Ta'ala menggabungkan antara shalat dan zakat dalam al-Qur'an

لأن الصلاة متضمنة للإخلاص للمعبود، والزكاة والنفقة متضمنة للإحسان على عبيده

karena shalat mengandung keikhlasan kepada Dzat yang diibadahi, sedangkan zakat dan nafkah mengandung perbuatan ihsan kepada hamba-hamba-Nya.

فعنوان سعادة العبد إخلاصه للمعبود، وسعيه في نفع الخلق

Maka tanda kebahagiaan seorang hamba terletak pada keikhlasannya kepada Dzat yang diibadahi dan usahanya untuk memberi manfaat kepada makhluk.

Sumber: Taisirul Karimir Rahman hlm.40


Share:

Pekan Ke-1 Materi 1 | Urgensi Mempelajari Silsilah Amalan Hati - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

Pekan ke-1 Materi Ke-1 | Kajian Kelas Ust Firanda Silsilah Amalan Hati 

Audio Bisa Diputar Disini :

URGENSI MEMPELAJARI SILSILAH AMALAN HATI

Kenapa kita harus mempelajari silsilah amalan hati ?, amalan amalan hati yang dianjurkan untuk diamalkan, dan juga penyakit penyakit hati yang berbahaya yang harus kita jauhi, hal ini menunjukkan bahwa urgensinya kita mempelajari silsilah amalan hati.

Bahwasanya kedudukan dan derajat seseorang tergantung akan bersihnya hati, olehkarenanya diantara doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam pada QS Asy-Syu'ara' : 87-89 :

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَ

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Oleh karenanya Nabi Ibrahim 'alaihissalam bertemu dengan Allah Ta'ala dengan hati yang selamat, dan kata Allah Ta'ala dalam ayat yang lain, QS : As-Shaffat 83-84 :

وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ

Dan sungguh, Ibrahim termasuk golongannya (Nuh).

اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,

Dan ini juga ditegaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadist Abdullah bin amr bin ash :

أفضل الناس كل مخموم القلب صدوق اللسان ، قالوا : صدوق اللسان نعرفه فما مخموم القلب ؟ قال : التقي النقي ، لا إثم فيه و لا بغي و لا غل و لا حسد

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab : 

“Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dholim, tidak iri, dan juga tidak dengki.”

Inilah manusia yang paling afdhol di sisi Allah Ta'ala, hati yang bertaqwa, tidak ada dosa yaitu syahwat yang ingin melihat hal hal yang haram, kemudian tidak ada melampaui batas ,sombong, tidak ada kedongkolan dan tidak ada hasad, ini adalah orang yang paling afdhol disisi Allah Ta'ala.

Oleh karenanya di dalam hadist Nabi ﷺ mengatakan :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Artinya Nabi ﷺ menjelaskan bukan rupa yang dijadikan barometer oleh Allah Ta'ala untuk menilai seseorang, tetapi yang Allah lihat adalah Hati Kalian dan Amalan Kalian ini yang menjadi barometer Allah dalam menilai derajat seseorang, terutama adalah hatinya.

Karena kalau seseorang dinilai dari rupanya dari parasnya maka orang orang yang tampanlah dan yang cantiklah yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Ta'ala, tapi itu bukan patokan atau ukuran di sisi Allah dalam menilai tinggi atau rendahnya derajat seseorang, betapa banyak orang orang mulia yang ternyata misalnya mereka adalah budak, seperti Bilal bin Rabah yang dulunya adalah budak dan setelah itu dibebaskan oleh Abu Bakar rodhiallahu'anhu, terus berkulit hitam.

Demikian juga dalam suatu hadist ketika 'Ibnu Abbas radhiallahu'anhu pernah berkata kepada Atho bin Abi Rabah radhiallahu'ahu, kata 'Ibnu Abbas radhiallahu'anhu :

“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab:”Ya” ia berkata:

هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ

“Ini wanita yang berkulit hitam.”

“Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata:

إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي!‏

”Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya”,

قَالَ ‏ "‏ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ ‏"‏‏.‏

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu”,

 فَقَالَتْ أَصْبِرُ‏.

Wanita itu menjawab:”Aku pilih bersabar”,

فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا‏

Lalu ia melanjutkan perkataannya:”Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap”. Maka Nabi pun mendoakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

MaasyaaAllaah kita lihat wanita ini, bagaimana rasa malunya wanita berkulit hitam ini, mungkin kalaupun auratnya tersingkap pun tidak ada yang akan melihat dirinya (yang karena hitam) dan mungkin tidak ada yang tertarik, tetapi  dia punya rasa malu yang tinggi di sisi Allah Ta'ala.

Maka ini adalah dalil wanita berkulit hitam yang masuk surga, yang kita perhatikan disini, apa yang membuat dia masuk kedalam surga ? yang membuat dia mulia disisi Allah ?, itu melainkan karna dia mempunyai Amalan Hati yaitu "Sabar", oleh karena ini saya ingatkan kepada diri saya pribadi dan kawan kawan semua yang terlalu perhatian dengan penampilan dzhohirnya, itu bagus dan tidak ada masalah, tapi lupa dengan memperhatikan hati nya, kita memperhatikan amalan dzhohir dan penampilan yang dzhohir yang kita perhatikan, tetapi yang lebih utama kita perhatikan adalah ISI HATI KITA, karna itu yang akan menjadi barometer atau ukuran penilaian di sisi Allah Ta'ala.

Pertemuan Sebelumnya : Muqaddimah Kedua

Mudahan saya pribadi dan kita semua dimudahkan oleh Allah Ta'ala untuk dapat mudah me Manage hati kita yang terkadang terkotori oleh penyakit penyakit hati, yang tentunya itu bisa berpengaruh terhadap amalan yang dikerjakan, aamiin.

Wallahu a'lam semoga bermanfaat ~


Pertemuan Selanjutnya : Materi Kedua | 

Share:

Pekan Ke-1 Muqaddimah 2 | Muqaddimah Penuntut 'Ilmu#2 - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

 Pekan ke-1 Muqaddimah Ke-2 | Kajian Kelas Ust Firanda Silsilah Amalan Hati 

Audio Bisa Diputar Disini :

Muqaddimah Penuntut 'Ilmu #2

Hendaknya meluruskan niat menuntut 'ilmu hanya karna Allah Ta'ala, karena hal ini sangatlah penting dan mempunyai pengaruh besar dalam gerak langkah kita, kalau niat kita benar maka InsyaaAllaah akan dimudahkan oleh Allah Ta'ala dan kalau niat kita salah maka akan sulit bagi kita untuk menempuh jalan untuk menuntut 'ilmu, kalaupun kita berhasil untuk menuntut 'ilmu tetapi niat nya salah, maka tidak berkah oleh karenanya Ibnu Qayim Rahimahullah mengatakan :

"Siapa yang menuntut 'ilmu, dan 'ilmu tersebut tidak menambah ketaqwa'an nya, dan ke sholehan nya, berarti naitnya ter-kontaminasi ada maslah dengan niat nya". 

olehkarenanya perlu kita perbaiki niat kita untuk menuntut 'ilmu.

Yang pertama adalah kita ikhlash menuntut 'ilmu karna Allah Ta'ala, kita menuntut 'ilmu bukan untuk bangga bangga'an, bangga bangga'an masuk dalan Grup UFA, dan hal ini bukan suatu hal yang untuk dibangga banggakan, mari kita sama sama untuk bekerja sama, baik ust Firanda sebagai pemateri maupun kita yang sebagai Tholabul 'Ilm (penuntut ilmu), agar kita sama sama bisa masuk kedalam surga, bukan hal untuk dibangga banggakan bahwasanya jumlah grup nya banyak atau yang lain nya, niat kita kita perbaiki, yaitu menuntut 'ilmu karena Allah Ta'ala, bukan untuk meraih pujian atau sanjungan dari manusia.

Yang kedua diantara yang perlu kita perhatikan masalah niat, yaitu kita niatkan menuntut untuk diamalkan ini sangat penting, karena sebagian orang menuntut 'ilmu hanya untuk menambah wawasan, apalagi dalam rangka untuk bisa berdiskusi dan berdebat agar orang mengakui dia menuntut'ilmu, dan ini adalah niat niat yang salah, menuntut 'ilmu adalah untuk di'amalkan bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa 'ilmu itu baru dikatakan berfaidah jika membuahkan hasil, hasilnya adalah pengamalan dari 'ilmu itu sendiri, maka dikatakan buat apa pohon tanpa buah ?, pohon itu ditunggu melainkan buah nya, maka sama hal nya dengan 'ilmu, yang dibutuhkan adalah pengamalan nya.

Pengamalan nya bisa dalam 2 hal yaitu pengamalan hati yaitu aqidah yang benar dan pengamalan amalan jawarih atau anggota badan dengan ibadah, maka ;'ilmu harus ada buktinya, karnanya tatkala kita belajar niatkan menuntut 'ilmu karna Allah Ta'ala.

Dahulu para sahabat, mereka mempelajari surat Al-Baqarah dengan perlahan, kenapa ?, karena disertai dengan pengamalan dari isi surah Al-Baqarah tersebut, olehkarena itu jika seseorang sudah hafal surah tersebut, berarti dia sudah banyak amalan nya, maka Pemateri berharap bahwa kita tidak hanya cerdas dalam menangkap 'ilmu tetapi kita juga cerdas dalam menerapkan 'ilmu, sebagaimana perkataan Nabi ﷺ:

وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)

Yaitu jikalau Al-Qur'an kita amalkan akan menjadi pembela bagi kita, tetapi jika tidak kita amalkan maka akan menjadi bumerang bagi kita sendiri yang akan menyerang kita pada hari kiamat kelak nanti.

Dan diantara niat yang harus diperhatikan ialah, kita menuntut 'ilmu untuk mengangkat kejahilan (kebodohan) dari diri kita dan dari orang lain, sebagaimana imam Ahmad pernah ditanya tentang 'ilmu, imam Ahmad rahimahullah berkata :

العِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ

“ Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amal apa pun bagi orang yang benar niatnya.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana niat yang benar itu?”

Beliau menjawab:

يَنْوِي رَفْعَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ غَيْرِهِ

“Seorang meniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”

Sebenarnya kita lahir dalam kejahilan (kebodohan), maka dari itu kita angkat kejahilan (kebodohan) kita sedikit demi sedikit, dan juga meniatkan mengangkat kejahilan dari orang lain, dan ini tentunya sangat penting bagi para da'i, mereka menuntut 'ilmu dalam rangka berniat dalam mengangkat kejahilan (kebodohan) dari masyarakat.

Dan juga seperti antum dan antunna, paling tidak berniat "kalau saya punya 'ilmu maka saya akan mengajarkan kepada orang terdekat saya, kepada istri kepada suami kepada anak" paling tidak adalah orang terdekat kita.

Jadi kita menuntut 'ilmu bukan untuk menjadikan diri kita tinggi atau pusat perhatian, sebagaimana sabda Nabi ﷺ : 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ وَيُجَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ جَهَنَّمَ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mempelajari ilmu untuk mendebat ulama, merendahkan orang-orang bodoh serta memalingkan perhatian manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam jahannam." (HR Sunan Ibn Majah)

Tapi kita menuntut 'ilmu karena ingin mengangkat kebodohan sedikit demi sedikit pada diri kita dan pada diri orang lain atau orang orang disekitar kita, jadi kita harus semangat dalam menuntut 'ilmu, sebagaimana nabi Musa 'alaihissalam ingin menuntut 'ilmu dia rela berjalan menuntut 'ilmu meskipun harus menempuh berkilo kilo bahkan puluhan tahun, untuk bertemu nabi Khidr untuk tujuan menuntut 'ilmu darinya.

Pertemuan Sebelumnya : Muqaddimah Pertama

Pertemuan Berikutnya   : Materi 1 | Urgensi Mempelajari Amalan Hati

Tambahan dari penulis :

Mudahan kita semua bisa menjaga niat kita agar tidak mencari sanjungan dari manusia dan tetap melurusan menuntut 'ilmu dengan ikhlash dan berharap pahala dari Allah Ta'ala, disamping itu kita harus juga tetap semangat dalam menuntut 'ilmu karena pada artikel sebelumnya kita membahas bahwa menuntut 'ilmu adalah jalan termudah untuk masuk kedalam surga.

semoga bermanfaat untuk dirisaya pribadi dan kita semua, wallahu a'lam.

Share:

Pekan Ke-1 Muqaddimah 1 | Muqaddimah Penuntut 'Ilmu#1 - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

 Pekan ke-1 Muqaddimah ke-1 | Kajian Kelas Ust Firanda Silsilah Amalan Hati 

Audio Bisa Diputar Disini : 

MUQADDIMAH PENUNTUT 'ILMU

Ilmu adalah 'ibadah, jadi niatkan hati kita masuk grup kelas ust firanda dengan menuntut ibadah dengan itu kita akan mendapatkan pahala, sebagaimana sholat juga mendapat pahala.

Tanda Allah ta'ala menghendaki kebaikan untuk dirinya adalah dengan menjadikan orang tersebut ingin lebih mengetahui tentang agama Allah ini, Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.“ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Yaitu Allah menjadikan nya cinta kepada 'ilmu, sabar dalam menuntut 'ilmu, dan Allah menjadikan dia betah dalam majelis 'ilmu, ini adalah tanda bahwa Allah Ta'ala menghendaki seseorang kebaikan untuk dirinya.

Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Ini dalil bahwasanya menuntut ilmu adalah jalan termudah untuk meraih surga, banyak jalan menuju surga, tetapi jalan yang tercepat kata sebahagian ulama ialah dengan menuntut 'ilmu, kenapa bisa demikian ?, karena dengan menuntut 'ilmu seseorang akan bisa terbuka wawasan tentang apa yang diharamkan untuk dijauhi, dan wawasan tentang amalan amalan sunnah yang bisa diamalkan.

Dan Allah menyebutkan didalam Al-Qur'an bahwa menuntut 'ilmu adalah jihad, Allah Ta'ala berfirman :

فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا

Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur'an) dengan (semangat) perjuangan yang besar. (QS Al-Furqan:52)

Ayat ini turun ketika masih di fase mekah dimana Nabi ﷺ belum diwajibkan untuk berjihad dengan pedang, tapi Allah Ta'ala menyuruh Nabi ﷺ berjihad dengan 'ilmu, dan sama ketika Allah Ta'ala menyuruh berjihad kepada orang orang munafiq, Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَٰهِدِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu (QS At-Taubah:73)

Kita tahu bahwa orang orang munafiq tidak boleh dibunuh karena KTP / Identitasnya sebagai islam, terus bagaii mana berjihad melawan orang orang munafiq ?, tentulah dengan 'ilmu, dengan contoh membantah syubhat syubhat mereka, membantah kerancuan pemikiran mereka,  jadi Allah menyatakan bahwasanya 'ilmu adalah salah satu bentuk jihad dijalan allah Ta'ala.

Dan kita lihat di zaman sekarang, bagaimana Islam tersebar bukan karena Pedang tetapi islam tersebar dengan 'ilmu, dengan banyak nya da'i, banyaknya kaum muslimin dinegara kafir sana yang menyampaikan 'ilmu dan membantah syubhat syubhat, sehingga  penyebaran islam sangat marak dan tidak bisa dibendung, semakin tersebar dimana mana, dinegara negara non muslim (kafir), dan ini merupakan salah satu bukti bahwa 'ilmu adalah jihad.

Olehkarena nya allah Ta'ala menggandengkan Jihad dengan 'Ilmu sebagaimana firman Allah Ta'ala :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS At-Taubah:122)

Disini Allah Ta'ala menyatakan "Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang).", dan harus ada sebahagian yang menuntut 'ilmu, maka disini perlu jihad dengan pedang dan jua perlu jihad dengan lisan, Allah menggandengkan jihad dengan lisan atau menuntut 'ilmu ini menunjukan agung nya menuntut 'ilmu.

Diantara dalil bahwasanya menuntut 'ilmu adalah 'ibadah adalah Allah Ta'ala menyebut 'ilmu dengan "dzikir" sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surat An-Nahl:43

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An-Nahl:43)

Kata Allah Ta'ala "فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ " bertanyalah kepada ahlul dzikr, yaitu Orang-orang yang suka berdzikir, maksudnya dzikr disini bukan orang tukang berdzikir, tapi maksudnya orang ber'ilmu, Allah menamakan 'ilmu dengan dzikr, karena tempat kita bertanya adalah para ulama, dan Allah menamakan para ulama Ahlul Dzikr, kenapa ?, Karena menuntut 'ilmu itu sendiri kita sedang mengingat Allah Ta'ala, mau itu apapun kita pelajari, misalkan Tauhid, Ilmu Fiqh, Adab, apapun itu yang kita pelajari mengenai agama ini itu termasuk mengingat kepada Allah, diantara dalilnya Allah Ta'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (QS Al-Jumu'ah:9)

Yang dimaksud "ذِكْرِاللّٰهِ" kata para ulama adalah, Khutbatul Jum'ah (Khutbah Jum'at), khutbah jum'at dikatakan oleh Allah "Dzikrullah" bukan sholatnya pada ayat ini, tapi Allah sedang berbicara tentang khutbah jum'at, kenapa khutbah jum'at ?, kakrena isi nya adalah 'Ilmu, mendengarkan 'imu artinya Dzikrullah, yaitu sedang berdzikir kepada Allah, ini menunjukan bahwasanya 'ilmu adalah 'ibadah, dan juga Allah Ta'ala mengangkat orang yang ber'ilmu sebagaimana firman Nya :

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Jadi orang beriman diangkat derajatnya dan orang ber'ilmu diangkat beberapa derajat diatas orang yang beriman dan tidak mungkin seorang diangkat derajatnya kecuali dia beribadah kepada Allah Ta'ala. dan masih banyak dalil dalil lain nya yang menunjukkan bahwa 'ilmu itu agung, maka dari itu Nabi tidak pernah disuruh oleh Allah untuk meminta tambahan kecuali tambahan 'ilmu kata Allah Ta'ala :

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ” (QS Thaha:114)

Jadi ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Ta'ala, semoga Allah akan tetap menjaga niat kita dan tidak lupa juga untuk meniatkan menuntut 'ilmu karena Allah Ta'ala, jadi jangan sampai niat kita ini goyah dengan hal yang lain.

"maka niatkan menuntut 'ilmu ini untuk beribadah kepada Allah agar berpahala disisi Nya"

والله أعلمُ Semoga Bermanfaat untuk diri saya pribadi dan untuk kita semua tentunya. 


Pertemuan Selanjutnya : Muqaddimah Kedua

Share:

Pekan ke-2 Materi Ke-1 | Pengertian dan Definisi Ikhlas - Kelas UFA Kajian Silsilah Amalan Hati

Pekan ke-2 Materi Ke-1| Kajian Kelas Ust Firanda Silsilah Amalan Hati 

Audio Bisa Diputar Disini : 


Amalan hati yang pertama adalah"IKHLAS"

secara bahasa ikhlash diambil dari bahasa arab yaitu "kholusho" sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur'an :

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). (QS Az-Zumar:3)

Penjelasan :

Disini Allah Ta'ala menggunakan kalimat "khalusho" untuk menunjukkan kemurnian


وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ

Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. (QS An-Nahl:66)

Penjelasan :

Pada ayat ini juga Allah Ta'ala menjelaskan susu yang murni dengan kata "لَّبَنًا خَالِصًا" yang tentunya kata dasar tersebut adalah "khalusho" dan Allah mensifati susu tersebut dengan murni antara kotoran dan darah, yang berarti susu tersebut benar benar murni tanpa tercampur kotoran apapun, seandainya ada susu yang tercampur setetes darah atau setitik kotoran, maka susu tersebut tidak murni lagi.


فَلَمَّا اسْتَا۟يْـَٔسُوْا مِنْهُ خَلَصُوْا نَجِيًّا

Maka ketika mereka berputus asa darinya (putusan Yusuf) mereka menyendiri (sambil berunding) dengan berbisik-bisik. (QS Yusuf:80)

Penjelasan :

Pada ayat ini Allah Ta'ala berfirman "خَلَصُوْا نَجِيًّا" yang artinya sambil berunding dengan berbisik bisik diantara mereka, maksud dari kata "kholashu" pada ayat ini adalah, mereke berunding sambil berbisik murni  tanpa ada orang yang ikut nimbrung atau ikut campur kedalam pembicaraan mereka, dari sini kita tahu bahwa arti dari kata "khalusho" adalah murni.


Adapun "ikhlash" artinya memurnikan, yaitu secara sederhana artinya, seseorang memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala, tidak boleh niatnya tercampur dengan tujuan ibadah kepada selain Allah Ta'ala, sebagaimana murninya susu yang tidak tercampuri kotoran atau darah sedikitpun, demikian juga seorang beribadah kepada Allah Ta'ala niat nya harus ikhlash dan murni karna Allah Ta'ala, dia tidak mengharapkan sedikitpun pujian dari manusia dan mengharapkan sedikitpun sanjungan manusia karena ketika dia beribadah ternyata dia berharap untuk "diakui,disanjung,dihormati" maka sesungguhnya niat nya tidak ikhlash lagi, jikalau niatnya tidak ikhlash lagi maka tidak diterima Allah Ta'ala ibadah nya.


karenanya ada didalam satu hadist Qudsi :

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكََاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أََشْرَكَ فِيْهِ غَيْرَهُ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

Aku adalah dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu (teman). Barangsiapa melakukan satu perbuatan, dia sekutukan aku dengan yang lain pada amal itu, maka aku tinggalkan (biarkan) ia dengan sekutunya. (HR Muslim 2985)

Maka pada hadist ini yaitu Allah Ta'ala tidak butuh dengan syarikat, atau sekutu sedikitpun, dalam riwayat yang lain kata Allah Ta'ala :

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ

Aku adalah dzat yang tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa mengerjakan suatu amalan dengan menyertakan sekutu selain diri-Ku, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia milik sekutu yang disertakannya itu. (HR Ibnu Majah)

Jadi inilah yang namanya ke-Ikhlasan, yaitu seseorang beribadah murni hanya untuk Allah Ta'ala karena Allah tidak menerima sekutu, jadi kalau seseorang beribadah 100% hanya untuk Allah Ta'ala, seandainya dia beribadah 90% beribadah karna Allah Ta'ala dan 10% untuk mendapat punjuan,sanjungan,dll maka apa kata Allah tadi ? "تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ" maka aku tinggalkan (biarkan) ia dengan sekutunya, dan dalam riwayat lain tadi, kata Allah "وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ" dia untuk sekutu yang dia sekutukan, adapun Allah ta'ala tidak menerima persekutuan.


Sebagian salaf mengatakan "yaitu ikhlash engkau tidak mengharap dari amalanmu saksi selain Allah Ta'ala (yaitu yang penting Allah melihat amalan tersebut) dan kau tidak berharap pemberi balasan selain Allah Ta'ala", oleh karenanya inilah syi'ar kaum muslimin yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an :

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. (QS Al-Insan:9)

Kemudian, perkataan lain dari para salaf, Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”.

Yaitu melupakan pandangan dan penilaian manusia dengan selalu memandang kepada sang pencipta yaitu kepada Allah Ta'ala, dia tidak mengharap apapun dari manusia, dia tidak mengharap dipandang, tidak mengharap di akui, tidak berharap di komentari dan dia benar benar mengharap dari Allah Ta'ala.

Inilah kira kira definisi Ikhlash secara istilah, yaitu seorang "memurnikan" niatnya ketika beramal sholeh hanya untuk Allah Ta'ala dan ini berlaku dalam seluruh ibadah, kita harus ikhlash beribadah kepada Allah Ta'ala, ikhlash bukan hanya sekedar ketika bersedakah, bukan ketika sholat saja, tetapi segala ibadah kita harus ikhlash.


Contoh sederhananya misalkan dalam menuntut 'ilmu, menuntut 'ilmu harus ikhlash bukan untuk  diakui oleh kebanyakan kawan kawan, bukan untuk dipuji oleh ustadz atau guru, bukan supaya nilai kita tinggi dalam ujian dan dengan itu kita di akui oleh panitia ujian misalnya, maka menuntut 'ilmu harus ikhlash kepada Allah Ta'ala karena menutut 'ilmu adalah ibadah kepada Allah Ta'ala.

Contoh yang lain misalnya berbakti kepada orang tua, kita menyemangati orang tua, tidak perlu kita ceritakan kepada orang orang bahwa kita berbakti terhadap orang tua, bahwa saya yang mengobati orang tua, bahwa saya meng hajikan orang tua, saya mengumrohkan orang tua saya, saya yang, saya yang, saya yang, tidak perlu.... , berbakti kepada orang tua adalah amalan yang sangat besar, dan tidak perlu kita ceritakan kepada orang lain.

Contoh juga masalah dakwah, dakwah juga merupakan ibadah kepada Allah Ta'ala, dan dialam hal ini juga perlu ke Ikhlasan, Allah Ta'ala berfirman :

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS Yusuf:108)

jadi seorang berdakwah dia menyeru kepada Allah, bukan menyeru untuk yayasan nya, bukan menyeru untuk dirinya, agar orang lain berkumpul dengan dirinya, kalau ada grup lain dia hasad dan dia cemburu, maka katakan lah TIDAK melainkan dia berdakwah karena Allah semata dan tidak berdakwah untuk yayasan,podok,ataupun dirinya, tetapi dia berdakwah untuk Allah Ta'ala "اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ".

jadi demikian ikhwan wa akhwat yang dirahmati oleh Allah, kita harus berusaha ikhlash dalam melaksanakan berbagai macam ibadah.


Wallahu A'lam Semoga Bermanfaat

Share:

🔴 LIVE STREAMING RADIO RODJA

KAJIAN SINGKAT MEMOTIVASI

Recent Posts

Popular Posts

Pengelola Blog Abu Abdurrahman. Diberdayakan oleh Blogger.