Tampilkan postingan dengan label Transkrip Ust Ahmad Zainuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transkrip Ust Ahmad Zainuddin. Tampilkan semua postingan

Kajian Radio Rodja | Ust Ahmad Zainuddin Lc. | Kisah Seorang Wanita Penghuni Surga

RISALAH PENTING UNTUK MUSLIMAH

By Radio Rodja | Rabu, 25 November 2020 pukul 5:10 pm

Terakhir diperbaharui: Kamis, 26 November 2020 pukul 6:57 am

Tautan: https://rodja.id/2vu


AUDIO BISA DIPUTAR DISINI :

Pernikahan Yang Paling Baik adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Risalah Penting Untuk Muslimah, sebuah kitab buah karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafidzahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 9 Rabiul Akhir 1442 H / 25 November 2020 M.

Pada pertemuan sebelumnya penulis mengatakan bahwasanya seorang wanita muslimah harus menjaga keluarganya sehingga menjadi keluarga yang selalu sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan ini dilakukan oleh seorang perempuan dari mulai dia menapaki jalan pernikahan. Makanya pada pertemuan sebelumnya penulis mengatakan bahwa hal ini mengkonsekuensikan untuk kita memperingatkan kepada sebuah permasalahan yang mana kekeliruan di dalamnya sudah tersebar luas, penyimpangan di dalamnya sudah banyak. Yaitu berlebih-lebihan dan berfoya-foya pada malam pernikahan dan juga pada biaya pernikahan. Dan ini perkara yang bahayanya terlalu besar dan keburukannya juga terlalu besar juga.

Kebanyakan dari perempuan jika ingin menikah, maka perhatiannya tertuju kepada dekorasi dan penampilan saja. Dan perhatiannya tertuju untuk menyerupakan kepada perempuan-perempuan sejenis dan yang semisalnya. Ada wanita yang begini dari orang-orang mengerjakan seperti ini, ada di dalam pernikahan si fulan melakukan seperti ini. Maka pandangannya tertuju kepada penampilan saja.

Disamping itu juga, terjadi perkara-perkara yang munkar dan yang diharamkan. Maka pendahuluan seperti ini sebelum pernikahan menjadi sebab pendeknya keberkahan dan sedikitnya kebaikan di dalam pernikahan tersebut.

Berbeda apabila seorang perempuan menjauhi akan hal itu. Kemudian keluarga dari perempuan tersebut juga menjauhi akan hal tersebut. Mereka menjauhkan dari sikap terlalu berlebih-lebihan, mereka menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa, biaya pernikahan yang digunakan adalah biaya yang tidak memberatkan di dalamnya, tidak terlalu berlebih-lebihan, tidak terlalu menghambur-hamburkan. Maka di sinilah akan benar-benar terjadi kebaikan dan akan dirasakan keberkahan di dalam pernikahan tersebut.

Oleh sebab itulah terdapat di dalam hadits yang shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari hadits sahabat Nabi ‘Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

“Pernikahan paling baik adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud)

Dan di dalam hadits yang lain:

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً

“Wanita paling besar berkahnya adalah yang paling mudah biaya pernikahannya.” (HR. Ahmad)

Ini menjadi pelajaran bagi para perempuan. Karena yang paling penting sebenarnya setelah menikah bagaimana bisa merasakan sakinah, mawaddah dan rahmah. Bukan hanya yang satu malam itu saja menghambur-hamburkan harta dan berfoya-foya. Tetapi bagaimana setelah pernikahan tersebut mendapatkan sakinah, mawaddah dan rahmah.

Oleh sebab itulah, semestinya seorang perempuan, bapak dan ibu, hendaknya yang menjadi fokus pandangan mereka dalam masalah pernikahan dan di dalam resepsi pernikahan adalah kemudahan, bukan kesulitan, rendah hati, tidak menyombongkan diri, tidak menunjukkan sikap ketinggian saat melakukan pernikahan. Karena sebagian orang kalau melakukan pernikahan kadang-kadang yang ada di dalam benaknya adalah gengsi. Gengsi kalau seandainya pernikahannya tidak mewah, gengsi kalau seandainya pernikahannya tidak meriah. Gengsi kalau seandainya anak perempuannya cuma diberi mahar sekian juta, tidak puluhan juta atau ratusan juta. Pemikiran seperti ini keliru.

Dan yang ada dalam pikiran perempuan serta bapak dan ibu perempuan tersebut, hendaknya yaitu kemudahan, kesederhanaan, tidak berlebihan, tidak berfoya-foya. Maka ini perkara yang benar-benar memiliki pengaruh di dalam kehidupan berumah tangga. Seluruhnya, baik itu secara positif ataupun negatif sangat berpengaruh. Dari mulai pertama kita melakukan akad pernikahan kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Terutama kita di zaman pandemi covid-19 seperti ini, tidak terlalu perlu untuk menggelar pernikahan yang terlalu mewah, membuang-buang harta, habis ratusan juta bahkan mungkin sampai milyaran hanya dalam satu malam.

Ada sebagian yang berpikir bahwasanya ini adalah sekali seumur hidup. Maka jawabannya iya betul sekali seumur hidup. Lalu apakah kalau begitu kita harus melaksanakannya dengan maksimal? Padahal yang paling utama adalah setelah pernikahan. Kalau seandainya satu malam habis satu miliar kemudian setelah tiga bulan atau satu tahun bercerai, apa gunanya? Kita harus melihat esensi yang ada di dalam sebuah pernikahan, bukan hanya sekedar dekorasi atau sekedar penampilan luarnya saja.

Jika di dalam pernikahan tersebut ada kemudahan dan memudahkan, jauh dari berlebih-lebihan, maka ini penyebab-penyebab yang mendatangkan berkah dan terus-menerusnya kebaikan kepada suami istri tersebut. Berbeda jika dimulai dengan berlebih-lebihan, berfoya-foya, menghambur-hamburkan harta, dan dimulai dengan maksiat, musik, tarian, membuka aurat dan berbagai macam jenis dosa, maka ini permulaan dari sebab-sebab dicabutnya keberkahan dari keluarga tersebut.

Pembahasan selanjutnya adalah tentang mahar dan hal-hal yang berkaitan dengan pernihakan. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini..

Share:

Kajian Radio Rodja | Ust Ahmad Zainuddin Lc. | Kebahagiaan Istri Shalihah

Kebahagiaan Istri Shalihah 

By Radio Rodja | Rabu, 18 November 2020 pukul 4:09 pm

Terakhir diperbaharui: Jumat, 20 November 2020 pukul 11:07 am

Tautan: https://rodja.id/2vj

Kebahagiaan Istri Shalihah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Risalah Penting Untuk Muslimah, sebuah kitab buah karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafidzahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 2 Rabiul Akhir 1442 H / 18 November 2020 M.

Silahkan Putar Audio Kajian Disini :


Penulis mengatakan bahwa pondasi keshalihan di dalam diri seorang perempuan adalah keshalihan terhadap Rabbnya dengan bagusnya ketaatannya dan bagusnya pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu diatas ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sesungguhnya keshalihan dan istiqamah tersebut adalah rahasia kebahagiaan, rahasia keberuntungan dan rahasia diberinya petunjuk oleh Allah kepada perempuan tersebut di dalam seluruh kehidupannya. Termasuk di dalamnya adalah kehidupan bersama suaminya dan juga keshalihan anak-anak dan keturunannya, dan juga kehidupannya dengan kehidupan yang baik dan indah.

Penulis menginginkan di dalam paragraf ini bahwasanya semakin seorang perempuan salihah, selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, selalu mendekatkan diri kepada Allah, maka semakin nyaman hidupnya dan juga semakin bahagia hidupnya. Bahkan kebahagiaan tersebut juga akan dirasakan oleh anak keturunannya. Dan ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an, bahwasanya keshalihan orangtua adalah salah satu jaminan keshalihan anak. Keshalihan orang tua sangat berpengaruh terhadap keshalihan anak. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 33-34:

إِنَّ اللَّـهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿٣٣﴾ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Adam, Nabi Nuh dan keluarga Ibrahim dan keturunan Imran sebagai Nabi dan Rasul untuk alam semesta. Keturunan mengikuti keturunannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui dan Maha Mendengar.” (QS. Ali-Imran[3]: 33-34)

Kalau kita perhatikan perkataan ulama tafsir tentang ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ, yaitu dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Allamah  ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullahu Ta’ala, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud “keturunan sebagian mengikuti sebagian yang lain,” maksudnya adalah terjadinya kesesuaian dan keserupaan di antara mereka di dalam penciptaan dan budi pekerti-budi pekerti yang indah. Ini menunjukkan bahwa keshalihan orang tua sangat berpengaruh terhadap keshalihan anak.

Dalil lain yang menunjukkan bahwa keshalihan orang tua sangat berpengaruh terhadap keshalihan sang anak, semakin shalih orang tua, maka sejatinya semakin shalih anaknya. Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 82:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ…

“Adapun dinding rumah yang mau runtuh, maka itu adalah rumah yang dimiliki oleh dua anak kecil yang masih yatim di sebuah kota. Dan di bawah dinding tersebut terdapat harta simpanan yang dimiliki oleh dua anak yatim tersebut. Dan kedua orang tua dari anak yatim tersebut adalah anak yang shalih. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan ketika kedua anak yatim tersebut baligh, maka keluarlah harta simpanan mereka berdua sebagai rahmat dari Rabbmu.” (QS. Al-Kahfi[18]: 82)

Di sini terdapat pelajaran bahwa orang tua yang shalih akan menjaga keturunannya dan keberkahan ibadah orang tua yang shalih dirasakan oleh anak-anaknya di dunia dan di akhirat. Sebagaimana orang tuanya shalih di dunia, maka anaknya dan keturunannya (selama orang tua tersebut shalih), maka di dunia dia dijaga, baik itu kesehatannya, ekonominya ataupun pendidikannya. Keadaan dijaga akibat keshalihan orang tuanya. Dan juga di akhirat dengan syafaat orang tuanya kepada anak-anaknya. Sehingga anaknya tersebut bisa mencapai derajat yang paling tinggi, sehingga orang tua senang melihat anak-anaknya masuk ke dalam surga dan mencapai derajat yang paling tinggi.

‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma juga berkata:

حفظ بصلاح أبيهما, ولم يذكر لهما صلاحاً, وتقدم انه كان الأب السابع

“Bahwa kedua anak tersebut dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keberkahan keshalihan kedua orang tuanya dan sebenarnya yang shalih tersebut bukan orang tua kandungnya langsung, tetapi kakek dan nenek yang ke-7.”

Berarti orang tua yang shalih, bapak ibu yang shalih akan menjaga anak cucunya sampai tujuh turunan lebih. Ini indahnya seorang istri yang shalihah, istri yang hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bagus. Dia akan bahagia di dunia bersama dengan suaminya, dia juga bisa membahagiakan anak-anaknya karena keshalihan istri tersebut.

Oleh sebab inilah ditekankan atas siapa wanita yang ingin kebaikan untuk dirinya dan ditekankan atas para orang tua yang menginginkan kebaikan untuk anak-anak perempuannya, hendaknya mereka mendidik anak-anak mereka diatas keshalihan, diatas keistiqamahan, diatas selalu menjaga ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperhatikan kewajiban-kewajiban dalam agama Islam, terutama shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menjauhkan dari segala apa yang mempengaruhi kesucian dan kemuliaan anak perempuan.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Silahkan simak selebihnya pada audio.

Share:

Kajian Radio Rodja | Ust Ahmad Zainuddin Lc. | Kisah Seorang Wanita Penghuni Surga

Kisah Seorang Wanita Penghuni Surga

By Radio Rodja | Rabu, 12 Agustus 2020 pukul 9:23 am

Terakhir diperbaharui: Jumat, 14 Agustus 2020 pukul 10:31 am

Tautan: https://rodja.id/2qb

Kisah Seorang Wanita Penghuni Surga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Risalah Penting Untuk Muslimah, sebuah kitab buah karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafidzahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 24 Dzulqa’dah 1441 H / 15 Juli 2020 M.

Audio Ceramah Bisa Diputar Disini :


KAJIAN ISLAM TENTANG KISAH SEORANG WANITA PENGHUNI SURGA

Ini adalah kisah yang menakjubkan dan sangat agung. Di dalamnya terdapat pelajaran dan juga nasihat. Kisahnya adalah sebuah kisah seorang wanita dari penghuni surga. Artinya wanita ini ketika hidup di dunia sudah dinyatakan sebagai penghuni surga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab shahih mereka berdua, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dua kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an dengan kesepakatan para ulama Rahimahumullah dari mulai abad ke-3 Hijriyah sampai sekarang. Beliau berdua meriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabbah Rahimahullah, beliau berkata: “Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata kepadaku: ‘Maukah aku beritahukan kepada engkau tentang seorang wanita dari penghuni surga?'” Kata Atha’ bin Abi Rabbah Rahimahullah: “Iya, tentu.” “Ini, wanita yang berkulit hitam.”

Di sini terdapat pelajaran bahwa surga tidak mengenal warna kulit, surga tidak mengenal strata pendidikan, surga tidak mengenal strata keturunan, tingkatan sosial, tetapi surga mengenal iman dan taqwa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Allah tidak melihat kepada tubuh atau jasad kalian, juga tidak melihat pada wajah kalian, tetapi Dia melihat pada hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Itu yang menjadi standar bagi surga, yaitu iman dan amal. Maka lihat kata Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ

“Ini wanita yang berkulit hitam.”

Kisahnya adalah bahwa wanita tersebut pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wanita tersebut berkata: “Aku sering kesurupan. Dan jika aku kesurupan terbuka auratku. Maka wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku.”

Jadi perempuan ini sering kesurupan, dimasuki jin. Kemudian saat kesurupan, jin berusaha untuk membuka aurat perempuan tersebut. Ini menunjukkan bahwasannya salah satu trik iblis dan juga pengikut-pengikutnya dari bangsa jin dan manusia adalah membuka aurat wanita dan laki-laki. Ini sebagaimana Nabi Adam dan Hawa ketika kedua-duanya makan dari pohon yang ada di dalam surga akibat bisikan setan. Maka setelah makan nampaklah dari keduanya aurat mereka berdua.

Maka saya katakan sekali lagi bahwa salah satu target operasi iblis adalah membuat manusia terutama perempuan terbuka auratnya sebagaimana hadits ini.

إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي!‏

“Aku kesurupan dan terbuka auratku. Berdoalah kepada Allah untukku.”

Ini menunjukkan bahwasannya para sahabat Nabi Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum meminta doa kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup. Adapun setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah meninggal, maka tidak diperbolehkan meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar mendoakannya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpindah dari alam dunia ke alam barzakh setelah beliau meninggal 14 abad yang lalu. Siapa yang membolehkan bahwasanya meminta agar didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau sudah meninggal, maka dia wajib untuk mendatangkan dalil. Dan tidak ada dalil dalam hal ini.

Maka boleh meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar mendoakan seseorang saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup. Adapun sudah meninggal maka belum ada dalil akan kebolehan hal tersebut.

Di sini juga menunjukkan bahwa boleh meminta didoakan oleh orang lain.

Bagaimana tanggapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atas permintaan wanita pengguhi surga tersebut?

Silahkan Simak Audio Ceramah Beliau Di Sini :


Share:

JIBRIL'S QUESTIONS - Kitab Hadist Al-Arba'in - #Pertemuan 3

 JIBRIL’S QUESTIONS

Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary حَفِظَهُ اللهُ تعالى

ITB2020 MENGAJI

Jum’at, 12 Rabiul ‘Awwal 1442 H⁣


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Khutbatul Haajah

إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيِّئات أعمالنا، من يهده الله؛ فلا مُضِلَّ له، ومن يضلل؛ فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.


{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ} [آل عمران: ١٠٢]


{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكَمْ رَقِيبًا} [النساء: ١١]


{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَههُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيماً} [الأحزاب: ٧٠ – ٧١]


فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَللَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.أَمَّا بَعْدُ.


Doa-doa dalam menuntut ilmu :

اَللَّهُمَّ إِنَّا نسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلا

“Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima”


‎اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنا, وَعَلِّمْنا مَايَنْفَعُنا, وَ زِدْنا عِلْمًا

“Ya Allah, berilah manfaat kepada kami dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kami apa-apa yang bermanfaat bagi kami, Dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”


اللَّهُمَّ إِنّا نعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

 kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).”

Pertemuan yang kedua masih membicarakan hadits yang pertama:


🕋 Hadits 2 (الحديث الثاني)


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْننَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أأَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْععَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]


Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu“, kemudian dia berkata:“anda benar.” Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman.” Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan.” Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.” Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya“. Dia berkata: “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya“, beliau bersabda: “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian.” (Riwayat Muslim)


🕋 Penjelasan redaksi Hadits:

☑️ Menggunakan kata أيضا (artinya juga) karena sama dengan Hadits pertama diriwayatkan oleh Amiirul Mu’miniin Umar bin Al-Khaththaab رضي الله عنه.

☑️ Nabi ﷺ mengartikan Islam sebagai amalan lahiriyyah

☑️ Terjemahan kalimat syahadat lebih baik ditambahi: “Tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) yang haq selain Allah”. Alasannya karena orang kafir menyembah tuhan-tuhan yang tidak berhak untuk disembah (sembahan yang bathil). Dalilnya Surat Al-Hajj ayat 62.

☑️ Apabila ada yang menerjemahkan: “Tiada pencipta selain Allah”. Terjemahan ini kurang sempurna karena orang kafir pun meyakini tidak ada pencipta selain Allah ﷻ. Dalil-dalilnya: Surat Al-‘Ankabut ayat 61 & 63, Surat Luqman ayat 25, Surat Az-Zumaar ayat 38, Surat Az-Zhukhruf ayat 9.

☑️ Ketika ditanya tentang Iman, Nabi ﷺ menjawab dengan amalan hati/batin/keyakinan.

☑️ Tidak ada yang mengetahui te ntang hari kiamat tidak pula Jibril عليه السلام bahkan Rasulullah ﷺ. Dalilnya Surat Luqman ayat 34. Hal ini adalah nasihat bagi pendakwah yang terlalu berani berbicara tentang hari kiamat selain yang datang dari Nabi ﷺ.


🕋 Faedah Hadits:

1️⃣ Dinamakan Hadits Jibril karena yang bertanya adalah Malaikat Jibril عليه السلام

2️⃣ Imam Muslim menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini dari Abdullah ibn ‘Umar رضي الله عنهما.

Hadits ini juga mutafaqqun ‘alaih namun dari jalan Abu Hurairah رضي الله عنه

3️⃣ Hadits pertama dalam kitab Arba’in Nawawi (Hadits Niat) adalah hadits pertama di kitab Shahih Bukhari, hadits kedua (Hadits Jibril) adalah hadits kedua di Shahih Bukhari, dan merupakan hadits pertama di kitab Shahih Muslim. Cara pengurutan ini banyak diikuti ulama lain salah satunya Imam Baghawi رحمه الله.

4️⃣ Hadits Jibril adalah hadits pertama Kitabul Iman di dalam Shahih Muslim. Di hadits ini terdapat kisah:

“Dari Yahya bin Ya’mar, beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali berbicara masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al Juhani. Aku dan Humaid bin ‘Abdirrahman kemudian pergi berhaji –atau ‘umrah- dan kami mengatakan, “Seandainya kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, kita akan mengadukan pendapat mereka tentang takdir tersebut”

Kami pun bertemu dengan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang sedang memasuki masjid. Lalu kami menggandeng beliau, satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri. Aku menyangka sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku sehingga akupun berkata kepada Ibnu ‘Umar, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (kunyah Ibnu ‘Umar), sungguh di daerah kami ada sekelompok orang yang berpandangan takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu itu baru ada ketika terjadinya (tidak tertulis di catatan takdir dan tidak pula diketahui oleh Allah ﷻ sebelumnya).

Maka Ibnu ‘Umar berkomentar, “Kalau kamu bertemu dengan mereka, beritahukan mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi Dzat yang Ibnu ‘Umar bersumpah dengan-Nya (Demi Allah), seandainya mereka memiliki emas sebanyak gunung Uhud lantas menginfaqkannya, niscaya Allah tidak akan menerima infaq mereka tersebut sampai mereka mau beriman kepada takdir” (HR. Muslim)

➡️Kemudian Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما meriwayatkan Hadits Jibril ini.

5️⃣ Qadariyyah terbagi 2:

  • 1. Qadariyyah lama adalah orang-orang yang mengingkari ilmu pengetahuan Allah ﷻ terhadap takdir-takdir makhluk. Jenis ini dikafirkan para ulama dan ini yang dimaksud dalam Hadits.
  • 2. Qadariyyah baru adalah orang-orang yang mengingkari andil atau kuasa Allah ﷻ terhadap dirinya/perbuatannya.

6️⃣ Setelah bid’ah khawarij, bid’ah Qadariyyah adalah bid’ah yang paling pertama muncul dalam Islam.

7️⃣ Para Tabi’in bertanya kepada para Shahabat. Begitulah Umat Islam bertanya, dalilnya adalah Surat Al-Anbiyaa ayat 7 & Surat An-Nahl ayat 43.

8️⃣ Buruknya bid’ah qadariyyah, terlihat dengan penolakan keras dari Abdullah ibn Umar dan Allah ﷻ tidak menerima amalannya sampai mereka beriman dengan takdir.

9️⃣ Ulama hendaknya menjawab pertanyaan/berfatwa dengan dalil.

🔟 Para Malaikat bisa merubah bentuknya menjadi manusia dengan izin Allah ﷻ.


1️⃣1️⃣ Adab dalam menuntu ilmu:

1. Mendekat kepada orang yang kita tuntut ilmunya.

2. Berpenampilan yang baik saat menuntut ilmu agama.


1️⃣2️⃣ Hadits ini membuahkan kaidah:

المتسبب كالمباشر

yang menjadi sebab maka dia seperti pelaku langsung.

Dengan bertanya, maka Jibril عليه السلام menjadi penyebab para Shahabat belajar Islam, maka kata Nabi ﷺ “…Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian.”


1️⃣3️⃣ Kata Islam dan kata Iman jika dikumpulkan dalam sesuatu maka memiliki makna yang berbeda; Islam untuk amalan lahir, Iman untuk amalan batin. Namun jika disebut bersendirian maka kata Islam dan Iman adalah sama-sama mencakup dua makna (amalan lahir dan batin).

➡️contoh lain dalam kata fakir & miskin, kata albirr & attaqwaa.


🕋 Sesi Pertanyaan:


1. Apakah perbedaan tingkat Islam, Iman, dan Ihsan, dan perbedaannya dengan tingkatan Islam yang dianut orang Sufiyyah.

✒️Jawab: Islam, Iman, dan Ihsan adalah tingkatan dalam agama. Islam adalah amalan lahir, Iman adalah batin, dan Ihsan adalah meyakini Allah ﷻ melihat kira saat sedang beribadah.

Orang tasawwuf membuat tingkatan lain pada abad ke 4 H, populer di abad ke 6 dan 7 H: bahwa ada syari’at (mengerjakan syariat Islam), tariqat (meniti jalan), ma’rifat (mengenal Allah ﷻ), hakikat (mengetahui Allah ﷻ).

Istilah ini baru dan tidak diperlukan dalam Agama Islam, karena ia adalah buatan manusia yang akhirnya nanti akan menceraiberaikan kaum muslimin dari syari’at Nabi ﷺ. Dalam mencapai ma’rifat mereka melakukan ritual-ritual yang kadang bertentangan dengan syari’at.

Mengenal Allah ﷻ yang benar adalah dengan melihat makhluk-makhluknya dan tanda-tanda kekuasaan-Nya.


2. Apakah Rasulullah ﷺ belum pernah mengajarkan tentang Islam, Iman, dan Ihsan sebelum Hadits Jibril? Dan apakah para Shahabat langsung mengerti?

✒️Jawab:

➡️Nabi ﷺ secara parsial sudah mengajarkan Islam kepada para Shahabat sebelum datangnya Jibril عليه السلام. Tetapi penyebutan Islam, Iman, dan Ihsan dalam satu tempat kecuali dalam Hadits Jibril عليه السلام.

Apabila surat Al-Fatihah adalah Ummul Quran, maka Hadits Jibril adalah Ummussunnah.

Imam Qurtubi رحمه الله berkata Hadits Jibril adalah Ummus Sunnah karena di dalamnya mencakup hal-hal dalam ibadah dan syari’at Islam yang dibawa Nabi ﷺ.

➡️Agama Islam itu mudah, tidak ada yang mempersulit kecuali akan dikembalikan Agama Islam kepada kemudahan. Maka berdasarkan ini penjelasan Rasulullah ﷺ mudah dipahami para Shahabat.


3. Bagaimana seorang muslim yang belum bisa mengamalkan Ihsan?

✒️Jawab: Seorang yang mengamalkan Islam dan Islam adalah saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun Ihsan, adalah tingkatan yang paling tinggi melengkapi Islam dan Iman seseorang, yang apabila tidak ada maka Islam seseorang akan hambar hanya sekedar amal tanpa kelezatan dalam beribadah. Dia tetap muslim dan mu’min namun kelezatannya berkurang.


4. Bagaimana dengan perkataan “jangan terlalu dalam berbicara tentang takdir”? Bagaiman menjawab syubhat orang kafir: Dimana kebebasan hamba jika semua sudah ditakdirkan?

✒️Jawab:

➡️Abdullah ibn Abbas رضي الله عنه berkata:

القدر سر الله

“Takdir adalah rahasia Allah”

Maka yang tidak boleh dibicarakan terlalu dalam adalah Hal Ghaib contohnya si fulan ahli surga, si fulan neraka, kemudian ramalan, dst.

➡️Dalam bahasa aqidah, apakah manusia itu mukhayyar (memiliki pilihan) atau musayyar (dipilihkan/dipaksakan Allah ﷻ). Maka jawabannya manusia muqayyar dari satu sisi dan musayyar dari sisi lainnya. Manusia memiliki pilihan (muqayyar), namun pilihan tersebut tergantung kepada kehendak dan kuasa Allah ﷻ (musayyar).

Syubhat lebih parah adalah: kalau begitu maka manusia yang melakukan dosa bahkan kafir tidak bersalah karena itu adalah takdir Allah ﷻ dan dia adalah musayyar?

Jawabannya adalah tetap bersalah karena Allah ﷻ telah memberikan petunjuk dan mengutus Rasulullah ﷺ. Kemudian darimana dia tahu bahwa melakukan perbuatan dosa adalah takdirnya? Bukankah bila dia melakukan ketaatan maka ketaatan menjadi takdirnya?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang ditakdirkan untuknya…”


5. Apakah mengucap “Ah, cuma kebetulan” dilarang?

✒️Jawab: Tergantung dari apa yang ia yakini. Namun, lebih baik diganti dengan: “Alhamdulillah, Allah telah mentakdirkan.”


و الله تعالى أعلم بالصواب


🕋 Nasehat dari Ustadz:

Terkait penghinaan terhadap Rasulullah ﷺ:


☑️ Aqidah kita adalah:

➡️Siapapun yang menghina Rasulullah ﷺ maka dia akan celaka di dunia dan akhirat

➡️Allah ﷻ sudah menjamin dan menjaga kemuliaan Rasulullah ﷺ

➡️Penyebutan nama Rasulullah ﷺ sudah ditinggikan oleh Allah ﷻ


☑️ Sikap kita:

➡️Boleh mendoakan agar yang menghina Rasulullah ﷺ mendapatkan laknat secara umum. Adapun bila secara individu maka doa laknat ditambahkan “kecuali dia mau bertaubat”

➡️Wajib membela Rasulullah ﷺ dengan yang kita miliki asalkan tidak melanggar syari’at.

➡️Saatnya kita menyebarkan kemuliaan dan akhlak Nabi ﷺ.

➡️Instrospeksi diri apakah sudah mengikuti sunnah Nabi ﷺ

➡️Perbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ

☑️ Apabila pemerintah mewajibkan memboikot maka wajib kita ikut memboikot. Apabila tidak diwajibkan pemerintah maka tidak wajib juga, kecuali ingin memboikot secara individu semoga berpahala jihad di jalan Allah ﷻ.


و الله تعالى أعلم بالصواب


Doa Kafaratul majelis

‎سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


✅Follow | 👍Like | 📌Subscribe | ⤴️Share

🎥 Youtube: youtube.com/c/itb2020mengaji

📸 Instagram: instagram.com/itb2020mengaji

📩 Telegram: t.me/itb2020mengaji

🎙️ Twitter: twitter.com/itb2020mengaji

💻 Facebook: facebook.com/itb2020mengaji

🔊 Soundcloud: soundcloud.com/itb2020mengaji

Share:

Kiat-Kiat Meluruskan Niat - Kitab Hadist Al-Arba'in - #Pertemuan 2

KIAT-KIAT MELURUSKAN NIAT

Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary

6 Rabi’ul Awal 1442H


Hadits Arbain no 1.

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Faidah Kajian

1. Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam kitab yang paling shahih yang pernah ditulis manusia.


2. Pelajaran 1. Hadits niat ini tergolong hadits ahad. (Hadits yang tidak terkumpul syarat mutawatir).


3. Yang diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi, diriwayatkan seorang Tabiin dan juga seorang Tabiut Tabiin dan seterusnya diriwayatkan oleh banyak orang.


4. Umar bin Khaththab meneruskan kepada Al Qomah bin Waqqash Al Laisy kepada Muhammad bin Ibrahim At Taimy, kemudian ke Yahya bin Said Al Tsairy.


5. Pelajaran 1, Metode Ahlussunnah Wal Jama’ah menjadikan hadits yang shahih sebagian sandaran hukum dalam perkara aqidah, apalagi dalam perkara Fadhailul A’mal.. (walaupun diriwayatkan oleh seorang sahabat).

Berbeda dengan Ahlul Kalam, yang tidak anggap hadits ahad dalam perkara Aqidah, mereka akan menimbulkan sangkaan. Seperti siksa kubur, sifat-sifat Allah.


6. Pelajaran 2, Para ulama sepakat akan sahihnya hadits ini.


7. Pelajaran 3, Para ulama, karena anggap hadits ini Agung maka mereka jadikan yang pertama dalam kitab mereka. Seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Al Baghowi, Imam As Suyuti…


8. Hadits ini diawal penulisan kitab, Agar selalu menjaga hati dalam setiap perbuatan.


9. Pelajaran 4, Perkataan para ulama,

A. Imam Syafi’i : hadits ini sepertiga ilmu Islam dan masuk satu dari 70 Pintu ilmu fikih.

B. Ulama lain Pokok ajaran Islam ada 3: niat, Bid’ah, halal haram tentang syubhat.


10. Pelajaran 5. Makna dari amalan tergantung niat adalah ada 2.

A. Amalan terjadi karena niat

B. Amalan akan dianggap baik atau benar, rusak atau baik sesuai dengan niat.


11. Pelajaran 6, niat dalam ilmu fikih, maka ada beberapa makna

A. Membedakan ibadah dengan yang lain

B. Membedakan ibadah wajib dan Sunnah.

C. Membedakan antara adat kebiasaan dengan ibadah.


12. Pelajaran 7,dari sisi Aqidah maka fungsi niat adalah membedakan maksud dari amal.


13. Pelajaran 8, sinonim2 kata niat dalam Al-Qur’an dan hadits

A. Niat = Ikhlas

B. Niat = irodah, keinginan, qs Ali Imran ayat 152.

Niat = irodah, Qs Al Kahfi ayat 28.

C. Niat=Ibtigho =berkeinginan (Al Hadid ayat 27)


14. Pelajaran 9,kata niat dalam hadits ini, lebih condong kepada niat dalam penggunaan aqidah.


15. Pelajaran 10,yang dimaksud dengan amalan adalah seluruh amal (praktis maupun non praktis).


16. Pelajaran 11,

A. Umar bin Khaththab : tidak dianggap amal bila tidak ada niat, tidak ada pahala bila tidak ada niat

B. Yahya Ibnu Katsir, Sesunguhnya niat lebih dalam dari pada amal.

C. Sufyan Ats Tsaury, tidak ada yang paling sulit dijaga kecuali niat karena dia berubah-ubah.

D. Niat adalah urusan ahli ibadah, bukan ahli maksiat.


17. Pelajaran 12. Seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.


18. Pelajaran 13,pembagian amalan yang masuk ke dalamnya riya.

A. Apabila niat amalan 100% riya (dari awal sampai akhir) = hampir tidak ada yang mengerjakan dari orang muslim.

B. Riya masuk di tengah2 ibadah,

B1. Apabila awal ibadah tidak ada hubungan dengan akhir ibadah maka yang pertama diterima Allah, yang kedua tidak dapat pahala.


B1 1 = sedekah 50 ribu Ikhlas

B1 2 = sedekah lagi 59 ribu gak ikhlas


B2. Antar awal dengan akhir ibadah ada hubungan. Contoh wudhu (awal Ikhlas, akhir wudhu riya), maka dibagi 2.


B2.1 dia lawan, maka Allah maafkan

B2. 2 dia tenang dengan riya nya, maka batal amalannya.


C. Sudah selesai, baru masuk riya, maka amalan tidak batal akan tetapi ada dosa ujub.


19. Pelajaran 14. Hukum amalan bercampur dengan keinginan dunia.

Termasuk syirik asghar.


A. Haram,amalannya hangus,bila hanya untuk dunia qs Hud 15-16.

Misal sedekah 1 juta untuk dapat 1 Milyar.

Juga hadits ini, hijrah karena dunia…

Cari ilmu karena pingin dunia.


B. Beramal karena Allah dan ingin dunia secara bersamaan.

Misalnya wudhu Ikhlas karena akan sholat, dan supaya sejuk..


Ini hukumnya boleh.

Qs Ath Thalaq ayat 2-3.

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.


Amalan ini tidak batal kan pahala hanya kurangi pahala.


20. pelajaran 15, Niat adalah urusan hati. Misalnya baca niat sholat cukup di hati.

Karena niat adalah amalan hati dan tidak ada contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.


Semoga bermanfaat.

Share:

Sudah Luruskah Niat Kita ? - Kitab Hadist Al - Arbain - #Pertemuan1

  ﷽

SUDAH LURUSKAH NIAT KITA?

Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary 

24 Shafar 1442H

ITB2020 MENGAJI 


Video Kajian Bisa Sambil Disimak Via Youtube :


Hadits ini diambil dari kumpulan 40 hadits yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi rahimahullah. 

Ustadz memulai dengan berdoa meminta ilmu yang bermanfaat, 


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

HR. Ibnu Hibban. Hadis hasan sahih. Lihat at-Ta’liqaat al-Hisaan, al-Albani No 82.


Yang sedang kita lakukan ini adalah ibadah. Dari sekian banyak bentuk ibadah, tidak ada ibadah yang dimana Allah di ibadahi seperti menuntut ilmu agama. 

Imam Syafi'i mengatakan tidak ada ibadah yang paling agung setelah ibadah wajib, seperti ibadah menuntut ilmu. 


Adab ilmu adalah beradab sebelum berilmu. 

Adab = hal-hal lahiriah yang berkaitan dengan perbuatan baik.... 

Akhlak =terkait dalam hati yaitu sifat, seperti Penyayang, sabar, dll.. 


Biografi Imam An Nawawi... 

Nama : Yahya bin Sharf bin Murry bin Hasan bin Husein. 

Disandarkan kepada Nawawi - dari kata Nawa, sebuah desa di Huron, distrik di Damaskus. 

Kunyah nya adalah Abu Zakaria. 

Murid beliau, mengatakan bahwa Imam Nawawi setiap hari mengikuti 12 majelis ilmu. 

Bila kita semakin kuat berusaha untuk taat kepada Allah maka Allah akan beri kemudahan..

Imam An Nawawi lebih mengutamakan ibadah menuntut ilmu dari ibadah sunnah lainnya, dan beliau menulis kitab yang sangat terkenal misalnya Riyadhus Shalihin, Arbain An Nawawi. 


Ibnu Abbas mengatakan sesuatu yang karena Allah itu akan awet... 

Allah menjelaskan dalam ayat, 

{فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً}

Adapun buih itu, akan hilang sebagai yang tak ada harganya. (Ar-Ra'd: 17)


{وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ}

adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar-Ra'd: 17)


Hal ini seperti awet nya kitab-kitab Imam Nawawi dan ulama-ulama lainnya. 

Hadits Arbain (40),sebenarnya ada 42 hadits.. Dan para ulama berusaha mengumpulkan hadits2, karena ada hadits yang bermakna barangsiapa yang mengumpulkan 40 hadits maka akan dapat kemuliaan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di akhirat kelak. 

Sebenarnya Imam Ibnu Shalah lah yang pertama kumpulan sebanyak 26 hadits, dan Imam Nawawi menggenapkan menjadi 42 hadits, dan Ibnu Rajab Al Hambali menambah 8 hadits menjadi 50 hadits. 

Hadits yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi kebanyakan dari kitab Shalih Bukhari dan Shahih Muslim. 

Imam Nawawi mengatakan, bahwa beliau mewajibkan semua hadits yang beliau tulis ini harus shahih (dan dari shahih Bukhari dan Shahih Muslim). 

Isi nya semua kaidah yang agung dalam agama Islam. Bahkan 1/2 atau 1/3 agama Islam. 

Hadits pertama,

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]


Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) 

disini ust Ahmad hafidzhohullah ingin menjelaskan kata per-kata dari hadist yang telah beliau sampaikan,


BAHASAN HADIST 


عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

 Pemimpin orang-orang mukmin...


Abu Bakar, "khalifah Rasulullah" artinya yang mengganti ( Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).

Setelah Abu Bakar maka diganti Umar bin Khaththab menjadi Khalifah Khalifah Rasulullah. Maka menjadi sangat panjang.


Maka Al Mughirah bin Syu'bah mengusulkan menjadi Amirul Mukminin.

Abu Hafs adalah nama kunyah, dan sebagai muslim hendaknya ambil kunyah nya. 

Berkunyah tidak harus nama anak boleh yang lain .. Seperti Abu Thurab, panggilan Ali bin Abi Thalib. 


Keutamaan Umar bin Khaththab :

1. Manusia yang paling kuat ibadah setelah para Nabi 

2. Manusia 

3. Manusia yang pendapat nya dibenarkan oleh Allah 

4. Manusia yang bila ada Nabi lagi maka Umar lah orang nya. 

5. Takut ibadah nya tidak diterima 

6. Takut termasuk orang yang munafik. 


سَمِعْتُ.

 Saya mendengar..

jika ada kata "Sami'tu" atau yang artinya "saya mendengar", maka ini artinya derajat hadist nya lebih kuat, karna kalimat nya "saya mendengar" berarti mendengarkan langsung, dari Nabi Shallalhu'alaihi wasallam


إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

1.Setiap perbuatan terjadi karena niat. .

2. Nilai setiap perbuatan ada pada niatnya 


Fungsi niat 

1. Menentukan jenis ibadah, antara ibadah satu dengan ibadah yang lain. 

2. Membedakan tujuan saat beribadah. (Ikhlas atau tidak). 


Jadi perbuatan tergantung niat. 

Ini berkaitan dengan orangnya.. 


وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.


Dan saat ini tidak ada lagi hijrah dari Mekkah ke Madinah. 

Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

Ini menunjukkan bahwa ibadah yang bukan karena Allah adalah tercela. 


Adalah Muhajjir Ummu Qais, yang menjadi sebab adanya hadits tersebut. 

Kisah berawal dari Ummu Qais, seorang wanita cantik dari Makkah yang menolak lamaran seorang pria.

Ketika ada risalah yang memrintahkan hijrah, Ummu Qais ikut bersama Rasulullah ke Madinah. Mengetahui hal tersebut, sang pelamar yang menyukainya ikut berhijrah.

Dari sana-lah, pria tersebut disebut Muhajjir Ummu Qais (orang yang behijrah karena Ummu Qais)

Imam Muslim adalah murid Imam Bukhari, ibrah nya adalah murid dan gurunya (Bukhari) berlomba-lomba dalam kebaikan. 

Kajian انشاء الله Di Lanjutkan Di Pertemuan Berikutnya, mohon maaf dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki.

Tanya Jawab :


1. Mengapa disebutkan hijrah sebagai contoh dalam hadits ini? 

Jawab, dalam hijrah ada pengorbanan dan persiapan yang perlu niat yang tulus. 


2  bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagaimana cara tumbuhkan pada anak.. 


Jawab. 


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا)

Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan. (At-Taubah: 24)


Maksudnya, harta benda yang merupakan hasil jerih payah kalian.

(وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا)

perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai. (At-Taubah: 24)


Ini ancaman yang keras bila Dahulukan cintai 8 ini dari pada Allah dan Rasul-Nya. 

Kita harus ingat nikmatnya manisnya Iman, yaitu dengan prioritas pertama mencintai Allah dan Rasul-Nya. 

Juga ingat akan surga. 

Allah Ta”ala berfirman ” Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)


3.  Sedekah bukan niat karena Allah tetapi kasihan kepada orang miskin. 

Jawab, dapat pahala sedekah dan pahala kasihan kepada orang yang lemah. 

Tapi beda pahala bila niatnya dapat pahala karena Allah. 


4. Ingat kematian, yang baik adalah yang timbulkan ketaatan kepada Allah, bukan yang menjauh dari ketaatan kepada Allah dan putus asa dari rahmat Allah. 


5. Bagaimana cara lurus kan niat? 

Niat dapat rusak bila. 

1. Ingin dapat dunia 

2. Ingin riya 


Bagaimana cara luruskan niat?. 

Niat yang lurus ada Ikhlas kepada Allah dalam ibadah. 

Cara Cegah kerusakan niat. Dengan membesarkan keberadaan Allah di diri kita. 

Juga, bahwa apa yang ingin kita dapatkan semuanya hanya atas izin Allah. 


Nasihat 

- Jangan pernah menuduh orang salah niat. Karena niat urusan hati dengan Allah. 

- selalu perbaharui niat, jaga niat 


Video Kajian Bisa Disimak Melalui Via Streaming Youtube :


Saya ambil tulisan ini dari grup WA "SAHABATALIKHLAS DB01 IKHW" pada tanggal 10/16/20

Jika ada salah penulisan atau salah dalam proses Peng-Copy-an maka harap hubungi via E-Mail : yusmarahman09@gmail.com , semoga bermanfaat dunia dan akhirat, terimakasih.

semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.

Share:

🔴 LIVE STREAMING RADIO RODJA

KAJIAN SINGKAT MEMOTIVASI

Recent Posts

Popular Posts

Pengelola Blog Abu Abdurrahman. Diberdayakan oleh Blogger.