Pekan ke-2 Materi Ke-1| Kajian Kelas Ust Firanda Silsilah Amalan Hati
Audio Bisa Diputar Disini :
Amalan hati yang pertama adalah"IKHLAS"
secara bahasa ikhlash diambil dari bahasa arab yaitu "kholusho" sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur'an :
اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ
Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). (QS Az-Zumar:3)
Penjelasan :
Disini Allah Ta'ala menggunakan kalimat "khalusho" untuk menunjukkan kemurnian
وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ
Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. (QS An-Nahl:66)
Penjelasan :
Pada ayat ini juga Allah Ta'ala menjelaskan susu yang murni dengan kata "لَّبَنًا خَالِصًا" yang tentunya kata dasar tersebut adalah "khalusho" dan Allah mensifati susu tersebut dengan murni antara kotoran dan darah, yang berarti susu tersebut benar benar murni tanpa tercampur kotoran apapun, seandainya ada susu yang tercampur setetes darah atau setitik kotoran, maka susu tersebut tidak murni lagi.
فَلَمَّا اسْتَا۟يْـَٔسُوْا مِنْهُ خَلَصُوْا نَجِيًّا
Maka ketika mereka berputus asa darinya (putusan Yusuf) mereka menyendiri (sambil berunding) dengan berbisik-bisik. (QS Yusuf:80)
Penjelasan :
Pada ayat ini Allah Ta'ala berfirman "خَلَصُوْا نَجِيًّا" yang artinya sambil berunding dengan berbisik bisik diantara mereka, maksud dari kata "kholashu" pada ayat ini adalah, mereke berunding sambil berbisik murni tanpa ada orang yang ikut nimbrung atau ikut campur kedalam pembicaraan mereka, dari sini kita tahu bahwa arti dari kata "khalusho" adalah murni.
Adapun "ikhlash" artinya memurnikan, yaitu secara sederhana artinya, seseorang memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala, tidak boleh niatnya tercampur dengan tujuan ibadah kepada selain Allah Ta'ala, sebagaimana murninya susu yang tidak tercampuri kotoran atau darah sedikitpun, demikian juga seorang beribadah kepada Allah Ta'ala niat nya harus ikhlash dan murni karna Allah Ta'ala, dia tidak mengharapkan sedikitpun pujian dari manusia dan mengharapkan sedikitpun sanjungan manusia karena ketika dia beribadah ternyata dia berharap untuk "diakui,disanjung,dihormati" maka sesungguhnya niat nya tidak ikhlash lagi, jikalau niatnya tidak ikhlash lagi maka tidak diterima Allah Ta'ala ibadah nya.
karenanya ada didalam satu hadist Qudsi :
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكََاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أََشْرَكَ فِيْهِ غَيْرَهُ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ
Aku adalah dzat yang paling tidak butuh kepada sekutu (teman). Barangsiapa melakukan satu perbuatan, dia sekutukan aku dengan yang lain pada amal itu, maka aku tinggalkan (biarkan) ia dengan sekutunya. (HR Muslim 2985)
Maka pada hadist ini yaitu Allah Ta'ala tidak butuh dengan syarikat, atau sekutu sedikitpun, dalam riwayat yang lain kata Allah Ta'ala :
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ
Aku adalah dzat yang tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa mengerjakan suatu amalan dengan menyertakan sekutu selain diri-Ku, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia milik sekutu yang disertakannya itu. (HR Ibnu Majah)
Jadi inilah yang namanya ke-Ikhlasan, yaitu seseorang beribadah murni hanya untuk Allah Ta'ala karena Allah tidak menerima sekutu, jadi kalau seseorang beribadah 100% hanya untuk Allah Ta'ala, seandainya dia beribadah 90% beribadah karna Allah Ta'ala dan 10% untuk mendapat punjuan,sanjungan,dll maka apa kata Allah tadi ? "تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ" maka aku tinggalkan (biarkan) ia dengan sekutunya, dan dalam riwayat lain tadi, kata Allah "وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ" dia untuk sekutu yang dia sekutukan, adapun Allah ta'ala tidak menerima persekutuan.
Sebagian salaf mengatakan "yaitu ikhlash engkau tidak mengharap dari amalanmu saksi selain Allah Ta'ala (yaitu yang penting Allah melihat amalan tersebut) dan kau tidak berharap pemberi balasan selain Allah Ta'ala", oleh karenanya inilah syi'ar kaum muslimin yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an :
اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا
(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. (QS Al-Insan:9)
Kemudian, perkataan lain dari para salaf, Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”.
Yaitu melupakan pandangan dan penilaian manusia dengan selalu memandang kepada sang pencipta yaitu kepada Allah Ta'ala, dia tidak mengharap apapun dari manusia, dia tidak mengharap dipandang, tidak mengharap di akui, tidak berharap di komentari dan dia benar benar mengharap dari Allah Ta'ala.
Inilah kira kira definisi Ikhlash secara istilah, yaitu seorang "memurnikan" niatnya ketika beramal sholeh hanya untuk Allah Ta'ala dan ini berlaku dalam seluruh ibadah, kita harus ikhlash beribadah kepada Allah Ta'ala, ikhlash bukan hanya sekedar ketika bersedakah, bukan ketika sholat saja, tetapi segala ibadah kita harus ikhlash.
Contoh sederhananya misalkan dalam menuntut 'ilmu, menuntut 'ilmu harus ikhlash bukan untuk diakui oleh kebanyakan kawan kawan, bukan untuk dipuji oleh ustadz atau guru, bukan supaya nilai kita tinggi dalam ujian dan dengan itu kita di akui oleh panitia ujian misalnya, maka menuntut 'ilmu harus ikhlash kepada Allah Ta'ala karena menutut 'ilmu adalah ibadah kepada Allah Ta'ala.
Contoh yang lain misalnya berbakti kepada orang tua, kita menyemangati orang tua, tidak perlu kita ceritakan kepada orang orang bahwa kita berbakti terhadap orang tua, bahwa saya yang mengobati orang tua, bahwa saya meng hajikan orang tua, saya mengumrohkan orang tua saya, saya yang, saya yang, saya yang, tidak perlu.... , berbakti kepada orang tua adalah amalan yang sangat besar, dan tidak perlu kita ceritakan kepada orang lain.
Contoh juga masalah dakwah, dakwah juga merupakan ibadah kepada Allah Ta'ala, dan dialam hal ini juga perlu ke Ikhlasan, Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS Yusuf:108)
jadi seorang berdakwah dia menyeru kepada Allah, bukan menyeru untuk yayasan nya, bukan menyeru untuk dirinya, agar orang lain berkumpul dengan dirinya, kalau ada grup lain dia hasad dan dia cemburu, maka katakan lah TIDAK melainkan dia berdakwah karena Allah semata dan tidak berdakwah untuk yayasan,podok,ataupun dirinya, tetapi dia berdakwah untuk Allah Ta'ala "اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ".
jadi demikian ikhwan wa akhwat yang dirahmati oleh Allah, kita harus berusaha ikhlash dalam melaksanakan berbagai macam ibadah.
Wallahu A'lam Semoga Bermanfaat
Website Sumber Pendukung :
https://almanhaj.or.id/11937-pengertian-ikhlas-2.html
https://litequran.net
https://carihadis.com/
Jika ada masukan silahkan tuliskan dikomentar Terima Kasih




Tidak ada komentar:
Posting Komentar