بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Datang
pertanyaan dari saudari kami, “Kenapa suatu hari nanti Allah akan bertanya
kepada kita, sedangkan Allah maha tahu apa yang kita perbuat”, pertanyaan ini sepertinya
banyak keluar dari orang orang yang awam yang minim darinya ilmu pengetahuan
tentang agama ini, dan pertanyaan ini sebenarnya tidak pantas di tanyakan seorang
muslim yang ber’iman, maka semoga pembahasan ini dapat meluruskan apa yang fulanah
tanyakan kepada kami, semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua dalam
memahami tulisan yang kita sampaikan.
=-=-=-=-=-=-
Petama tama
kita akan membahas tentang isi pertanyaan yang ditanyakan, “Kenapa suatu
hari nanti Allah akan bertanya kepada kita, sedangkan Allah maha tahu apa yang
kita perbuat ? ”.
Tentunya permasalahan "kita ditanya" nanti itu adalah benar adanya, dan ini terdapat pada banyak ayat di dalam Al-Qur'an, diantaranya ada firman Allah ta’ala :
وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ
عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ
dan pada
hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka
ada-adakan. (QS Al-Ankabut : 13).
وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ
اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ يُّضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ
وَلَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Dan jika
Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia
kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu
kerjakan (QS An-Nahl : 93).
Tidak diragukan
lagi bahwa seorang muslim mempercayai dan yakin bahwa nanti pada hari kiamat akan
ada hari yang dimana Allah ta’ala akan mempertanyakan apa yang kita semua
lakukan selama didunia.
Dan pernyataan ini harus kita yakini 100% karena isi Al-Qur’an itu adalah kebenaran, karena Allah ta'ala berfirman :
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ
ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Kitab
(Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa. (QS Al-Baqarah : 2).
Selanjutnya, Dari pertanyaan ini kita melihat adanya “Pemikiran Logika” yang dibawa kedalam syari’at agama, wahai saudariku, ini adalah Aqidah (keyakinan) seorang muslim, yang sifatnya goib (tidak tampak) sikap yang terbaik dari seorang muslim ialah “kalau ada berita yang goib, dia hanya percaya dan ber’iman saja kepada apa yang di kabarkan oleh Allah ta'ala dan Rosul-Nya shollallahu'alaihi wasallam” lihat firman Allah :
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ
ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Kitab
(Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa. (QS Al-Baqarah : 2).
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ
وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
(yaitu) mereka
yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan
sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, (QS Al-Baqarah : 3)
Dari ayat
diatas, kita diperintahkan untuk ber’iman kepada yang goib, yang tentunya akal
kita tidak sampai untuk memikirkan nya.
Mari kita
bahas tentang “Kemampuan Manusia Terbatas”
Kemampuan
manusia ini terbatas, contohnya manusia hanya bisa melihat dengan luas
jika tidak ada penghalang atau tembok, jika ada tembok apakah manusia bisa
melihat ada apa dibelakang tembok ?
Contoh yang lain, soal pendengaran, manusia hanya bisa mendengar di beberapa frekuensi tertentu, apakah manusia bisa mendengar frekuensi yang lebih rendah dari apa yang dapat mereka tangkap ?
Contoh
yang lain, yaitu akal (ini yang kita titik beratkan), Akal manusia ini terbatas,
kenapa ? karena Pola pikir akal itu dibangun diatas database yang dia tangkap
melalui panca indra, dengan apa yang mereka lihat, dengan apa yang pernah
mereka dengar, maka dia akan menganalogikan semua itu dengan pertimbangan apa
yang ada di dalam database yang dia tangkap tadi.
Jika seseorang
mulai memikirkan sesuatu yang tidak pernah dia tangkap dengan panca indra, maka
hal ini sudah diluar kemampuan database (data yang ada di dalam kepalanya) nya,
maka dia akan ngawur, karena dia memaksakan untuk berfikir sedangkan dia
mempunyai akal yang terbatas
Contoh ringan
dalam hal ini, :
Ada seseorang
kita namakan “A”, dia ini masuk penjara karna kasus bandar narkoba, dan dia di
tahan oleh polisi di penjara selama 50 Tahun, jadi kita ibaratkan bapak “A”
masuk penjara pada tahun 1971 otomatis dia akan keluar pada tahun 2021.
Pertanyaannya
adalah, ditahun beliau keluar (2021) bisakah bapak ini membayangkan Apa itu
Facebook, Instagram, Snapchat, WhatsUp, dll ? jawaban nya adalah tidak bisa, kenapa ? karena
Si “A” tadi tidak pernah menangkap dengan panca indranya tentang hal hal
tersebut.
Dari sini lah sudah bisa dapat dipastikan “AKAL MANUSIA ITU TERBATAS”
Jadi jika
seseorang berfikir dengan akalnya tentang apa yang tidak pernah mereka ketahui
sebelumnya, maka dia tidak bakalan mampu.
Jika dalam
hal dunia saja seperti ini, terlebih lagi dalam hal syari’at, maka kita jelas tidak
mengetahui lagi, kecuali dengan adanya berita dari wahyu, yaitu Al-Qur’an dan
Hadist dari Rosul shollallahu’alaihi wasallam.
Adapun contoh pertanyaan dalam
pembahasan agama dalam hal ini :
Kenapa
kita di syari’atkan untuk akad nikah sebelum menjalin hubungan keluarga ?
Kenapa
kita sholat shubuh pada waktu pagi ? kenapa gak siang dan berdekatan dengan
dzuhur biar enak ?
Kenapa Allah
menciptakan Iblis ?
Kenapa
Allah menciptakan kita ?
Kenapa
wudhu harus membasuh bagian ini dan itu ?
Semua pertanyaan
ini adalah pertanyaan yang dimana akal kita tidak mampu untuk memikirkannya,
jadi hal ini sudah jelas, bahwa akal manusia itu terbatas, jadi jangan
dipaksakan.
Dan kita sebagai umat muslim yang beriman kepada hal tersebut maka tidak sepantasnya kita bertanya seperti itu, karena “KITA YANG AKAN DITANYA OLEH ALLAH APA YANG KITA PERBUAT, BUKAN ALLAH LAH YANG DITANYA APA YANG DIA LAKUKAN” hal ini sesuai firman nya :
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ
يُسْـَٔلُوْنَ
Dia
(Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan
ditanya. (QS Al-Anbiya : 23)
Adapun “HIKMAH”
dibalik semua pertanyaan tadi ada banyak, contoh salah satu yang saya ketahui,
karena keterbatasan ilmu yang saya miliki.
Kenapa
iblis diciptakan ?
Karena jika iblis tidak diciptakan, maka siapa yang akan menggoda manusia supaya berbuat buruk, sedangkan Allah menciptakan manusia dibumi ini untuk diuji, hal ini berdasarka firman Allah :
تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ
وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ - ١
Mahasuci Allah yang menguasai
(segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Mulk : 1)
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ
وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ
الْغَفُوْرُۙ - ٢
Yang
menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.
Jadi iblis
diciptakan untuk menguji manusia tersebut, apakah lolos dia dari goda’an nya
iblis ? sedangkan iblis sudah bersumpah kepada Allah akan menggoda kita (para
manusia) untuk selalu berbuat kemungkaran, hal ini didasari firman Allah :
قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ
لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ
وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ
اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ
لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ
Dan adapun pengecualian untuk
orang yang lolos/lulus dari goda'an iblis ini Allah berfirman :
اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ
الْمُخْلَصِيْنَ
kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”
Syaikh As-Sa'di menjelaskan
didalam buku tafsirnya, siapa orang ini ?
yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlash (kepadaMu) dan Engkau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwa'an mereka. (penulis kutip dari aplikasi Qur'an Tadabbur).
-=-=-=-=-=-=-=
Adapun sedikit pengetahuan saya tentang hikmah kenapa kita ditanya pada suatu hari nanti.
yaitu diantaranya ialah untuk
mempertanggung jawabkan ni'mat yang telah Allah berikan kepada kita, untuk apa
kita habiskan nikmat Allah yang ada pada kita sekarang ?, ada keterangan hadist
dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Jadi dengan adanya hal ini
(Pertanyaan) maka, setiap manusia akan berhati hati dengan menggunakan nikmat
Allah yang ada padanya sekarang, apakah dia menyia nyiakan nya?
Dan tentunya, hal ini dapat
membuat setiap dari kita takut jika kita melakukan suatu ke terpelesetan dalam
beberapa poin diatas.
=-=-=-=-=-=-=-
Adapun juga mengenai hikmah yang
lain kenapa kita ditanya pada hari kiamat kelak, saya pernah mendengar salah seorang
ustadz yang saya percayai keilmuan nya, bahwa dengan adanya pertanyaan nanti
di akhirat, ini mengesankan supaya manusia itu berhati hati terhadap apa yang
mereka kerjakan selama di dunia.
Karena setiap perbuatan mereka di dunia maka akan di tanya oleh Allah ta'ala, dan pada saat ditanya Allah ini adalah merupakan ujian tersendiri, yaitu yang dimana kita sendirian dan situasi yang sangat mencekam pada saat itu, semoga Allah menghisab kita dengan hisab yang mudah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:
اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا
يَسِيْرَا
Allohumma haasibni hisaaban
yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.)”
Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjawab: “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah
memaafkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan
binasa.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, VI/48, 185, al-Hakim, I/255, dan Ibnu Abi
‘Ashim dalam Kitaabus Sunnah, no. 885. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Hakim
dan adz-Dzahabi).
sampai sampai Nabi shollallahu
'alaihi wassalam berdo'a seperti itu, ini menunjukkan betapa mencekam nya
situasi pada saat itu.
=-=-=-=-=-=
Jika anda
mau menela'ah dan mempelajari lebih dalam tentang yaumul hisab, atau hari
perhitungan yang dimana hari tersebut sangat dahsyat dan mencekam !, anda bisa simak kajian dari Ust Firanda Andirja hafidhohullah
disini :
Tentunya dengan kita belajar, maka
kita dapat merasakan betapa Mengerikan wahai saudaraku, sangatlah mencekam
situasa pada saat kejadian tersebut, semoga Allah memudahkan kita dalam
mempelajari ilmu agama ini.
==-=-=-=-=-=-=-
Demikian,
itu saja yang bisa saya jelaskan mengenai pertanyaan tersebut, saya tidak mau
untuk menjelaskan lebih jauh, dikarenakan ‘ilmu saya yang masih kurang, dan
saya akan memberikan kesimpulannya dari pembahasan diatas pada bagian bawah
seletelah ini.
Kesimpulan
:
Memang
sifat manusia itu rasa ingin tahunya besar sekali, tetapi perlu diingat, bahwa
kemampuan manusia itu serba terbatas, termasuk mereka tidak bisa memikirkan sesuatu
yang diluar nalar mereka karena akal mereka tidak sampai untuk memikirkan hal
tersebut.
Sikap sebaiknya
seorang mu’min yang ber’iman ialah meyakini dengan sebenar benarnya kepada
berita dari Allah dan Rosul-Nya shollallahu’alaihi wasallam, dan ini sesuai
firman Allah Ta’ala :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا
اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ
وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ
وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
Wahai
orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
(Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta
kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian,
maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. (QS An-Nisa :136)
Dan jika
ada perintah dari Allah maupun Rosul-Nya shollallahu’alaihi wasallam, kepada kita
maka sikap yang terbaik ialah mengatakan “KAMI MENDENGAR DAN KAMI TA’AT” sesuai
firma Allah ta’ala :
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ
اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ
يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Hanya
ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan
Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami
mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. (QS An-Nur : 51)
Dan terakhir
saya ingin menyampaikan wasiat dari al Imam Asy-Syafi’I rohimahullah.
Imam
Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah atau imam Asy Syafi’i adalah
seorang imam dan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mendakwahkan dan
membela akidah Ahlussunnah. Bahkan beliau dijuluki sebagai nashirus sunnah
(pembela sunnah). Maka sikap beliau tegas dalam berakidah. Bahkan beliau
membantah akidah-akidah menyimpang, diantaranya ilmu kalam.
Beliau mengatakan
:
Tidak
boleh dikatakan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah “KENAPA BISA BEGINI”
Jadi tidak
sepatutnya seseorang mengkritisi Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan akal nya kok
begini sih ?, kok bisa sih ?, kenapa kaya gini ya ?, dikarenakan akalnya yang terbatas
tadi, jadi kata imam Asy-Syafi’I tadi Tidak Boleh.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=Zgzq1CBMoFc&t=230s
Menit ke (08:28)
=-=-=-=-=-=-=-=
Hal ini karena tidak mampu
membedakan antara sesuatu yang mustahil bagi akal dan sesuatu yang tidak
dipahami oleh akal dengan sempurna. Syari’at itu datang minimal dengan dalil
yang tidak dipahami oleh akal secara sempurna. Dan Syari’at ini tidak mungkin datang
dengan dalil yang dianggap mustahil bagi akal.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
وَالرُّسُلُ جَاءَتْ بِمَا يَعْجِزُ
الْعَقْلُ عَنْ دَرْكِهِ . لَمْ تَأْتِ بِمَا يُعْلَمُ بِالْعَقْلِ امْتِنَاعُهُ
“Rasul itu datang dengan wahyu
minimal tidak digapai oleh akal dengan sempurna. Namun beliau tidaklah datang
dengan wahyu yang mustahil bagi akal untuk memahaminya.” (Majmu’ Al Fatawa,
3/339). Semoga kita dapat memahami hal ini.
Intinya adalah, Akal harus tunduk dibawah
wahyu
Wallahu a’lam, mudahan yang
bertanya segera memahami apa yang sudah dijelaskan dari kita, apa yang benar dari Allah, dan jika ada tulisan ini yang keliru, silahkan hubungi penulis pada informasi dibawah, walhamdulillah
Allah ta’ala memudahkan kita untuk menulis artikel ini, semoga artikel ini
bermanfaat dan semoga Allah ta’ala memberikan hidaya dan taufiq nya kepada kita
semuanya
Sumber Terkait :
https://rumaysho.com/778-ketika-akal-bertentangan-dengan-dalil-syari.html
https://rumaysho.com/12200-waktu-muda-yang-sia-sia.html
https://almanhaj.or.id/4063-kedudukan-akal-dalam-islam.html
https://www.youtube.com/watch?v=Zgzq1CBMoFc&t=230s
https://muslim.or.id/7842-yaumul-hisab.html
Sumber
Pendukung :
Aplikasi
Qur’an Tadabbur karya Ust Firanda via IOS
Aplikasi App Qur’an via IOS
Masukan atau Saran ataupun Koreksi:
Email : yusmarahman09@gmail.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar